GORO- GORO– || KOLOCOKRONEWS
Di sebuah gardu bambu di pinggir desa, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sedang duduk melingkar. Kopi hitam masih mengepul, singkong rebus belum habis dimakan, ketika Petruk datang membawa kabar yang sedang viral.
Petruk:”Bopo Semar, ada seorang perempuan membakar belasan sertifikat prestasinya. Katanya, semua perjuangan itu tidak membantunya saat mengikuti jalur prestasi.”
Semar mengusap jenggotnya pelan.
Semar:”Kalau benar begitu, yang terbakar bukan hanya kertas. Bisa jadi yang ikut hangus adalah harapan yang dipupuk bertahun-tahun.”
Gareng mengangguk pelan.
Gareng:”Mendapat satu sertifikat itu tidak mudah. Ada yang harus latihan sampai malam, ada orang tua yang mengeluarkan biaya, ada guru yang mendampingi. Kalau akhirnya dianggap tidak bernilai, tentu rasa kecewanya besar.”
Bagong yang sejak tadi diam langsung tertawa kecil.
Bagong:”Negeri ini memang kadang unik. Anak-anak disuruh rajin ikut lomba, sekolah bangga kalau muridnya juara, orang tua bangga kalau rumah penuh piagam. Tapi saat dipakai mendaftar, baru diberi tahu kalau ternyata tidak semua dihitung.”
Petruk menambahkan.
Petruk:”Seharusnya sejak awal dijelaskan. Prestasi mana yang diakui, kompetisi mana yang masuk penilaian. Jangan setelah orang capek berlari, baru diberi tahu kalau lintasannya salah.”
Semar menghela napas.
Semar:”Sistem yang baik bukan hanya memberi kesempatan, tetapi juga memberi kepastian. Supaya orang berjuang dengan arah yang jelas.”
Bagong kembali menyela dengan nada satir.
Bagong:”Kalau begini terus, nanti anak-anak bingung. Mau sekolah atau belajar membaca syarat yang berubah-ubah? Jangan-jangan yang paling penting sekarang bukan medali emas, tapi punya kemampuan menebak aturan.”
Gareng tertawa kecil.
Gareng:”Kasihan generasi sekarang. Mereka berlomba mengumpulkan prestasi, sementara orang dewasa masih berlomba membuat tafsir tentang prestasi.”
Petruk menatap jauh ke arah sekolah yang terlihat dari kejauhan.
Petruk:”Padahal prestasi bukan sekadar piagam. Prestasi adalah proses membentuk disiplin, keberanian, dan kerja keras. Kalau anak-anak mulai merasa semua itu sia-sia, yang rugi bukan mereka saja, tapi masa depan bangsa.”
Semar lalu menutup diskusi.
Semar:”Jangan buru-buru menghakimi perempuan yang membakar sertifikatnya. Mungkin yang ia bakar hanyalah kertas, tetapi yang ingin ia tunjukkan adalah rasa kecewa. Tugas kita bukan memperbesar apinya, melainkan memperbaiki sistem agar tidak ada lagi anak yang merasa perjuangannya sia-sia.”
Bagong tersenyum sambil menyeruput kopi terakhirnya.
Bagong:”Sertifikat bisa dicetak lagi. Tapi kalau kepercayaan generasi muda kepada keadilan sudah terbakar, mencetaknya kembali jauh lebih sulit.”
Semua terdiam.
Di kejauhan terdengar suara anak-anak yang sedang berlatih untuk sebuah perlombaan. Semar memandang mereka sambil berbisik,
“Semoga kelak mereka berlomba karena cinta pada ilmu dan prestasi, bukan karena berharap pada aturan yang belum tentu berpihak.”
(Red)
