Aktivis dan Jurnalis Internasional Ditahan Israel, Dunia Bereaksi Keras

Rate this post

Internasional || kolocokronews
Kamis (21/5/2026) – Ketegangan internasional kembali memanas setelah tindakan aparat Israel terhadap rombongan aktivis kemanusiaan dan jurnalis internasional yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza menuai kecaman dari berbagai negara.

Video yang memperlihatkan perlakuan keras terhadap para aktivis beredar luas dan memicu kemarahan publik dunia. Dalam rekaman tersebut, para tahanan tampak diborgol dan dikawal ketat oleh tentara Israel. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bahkan menyebut para peserta misi sebagai bagian dari kelompok teroris.

Israel disebut menahan ratusan peserta misi kemanusiaan yang berasal dari puluhan negara. Mereka dikabarkan ditempatkan di fasilitas penahanan khusus, memicu gelombang protes dari komunitas internasional.

Sejumlah negara langsung mengambil langkah diplomatik. Italia memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan protes atas perlakuan terhadap warga negaranya yang ikut dalam misi tersebut. Sementara Irlandia, Spanyol, Turki, hingga Indonesia juga menyampaikan kecaman keras dan mendesak pembebasan seluruh aktivis.

Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, turut mengecam penahanan tersebut setelah diketahui saudara perempuan Presiden Irlandia berada di antara para aktivis yang diamankan Israel.

Dari Indonesia, Menteri Luar Negeri Sugiono memastikan pemerintah terus melakukan koordinasi guna memantau kondisi warga negara Indonesia yang ikut dalam misi kemanusiaan itu.

Menurut Sugiono, komunikasi dengan para relawan masih sangat terbatas. Pemerintah Indonesia saat ini berupaya menjalin koordinasi melalui negara-negara sahabat seperti Yordania dan Turki karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel.

Ia juga mengapresiasi semangat para relawan yang dinilai membawa misi kemanusiaan demi membantu masyarakat Palestina, khususnya di Gaza.

Kecaman keras juga datang dari parlemen Eropa. Anggota Parlemen Uni Eropa asal Spanyol, Irene Montero, mendesak Uni Eropa segera bertindak membebaskan warga Eropa yang ditahan Israel. Dalam sidang parlemen, ia mempertanyakan sikap dunia internasional yang dianggap diam terhadap tindakan Israel di perairan internasional.

Sementara itu, kelompok Global Sumud Flotilla melaporkan bahwa total 54 kapal misi kemanusiaan dihentikan di sekitar pantai Gaza. Sekitar 480 peserta dari 40 negara ikut dalam misi tersebut, termasuk delegasi dari Indonesia.

Dari ratusan orang yang ditahan, sembilan di antaranya merupakan delegasi Indonesia. Sebanyak 87 aktivis dilaporkan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes atas penahanan mereka sekaligus solidaritas terhadap tahanan Palestina di penjara Israel.

Kecemasan kini menyelimuti keluarga para relawan Indonesia. Erlina, ibu dari Rahendro Herubowo asal Jakarta, mengaku terakhir berkomunikasi dengan putranya pada Minggu lalu sebelum akhirnya seluruh pesan tidak lagi mendapat balasan.

Ia berharap pemerintah Indonesia dapat segera membantu pembebasan anaknya dan memastikan seluruh relawan kembali dengan selamat ke Tanah Air.

Hal serupa disampaikan Sutrawati, ibu dari Andi Angga Prasadewa asal Makassar. Ia mengaku sangat cemas setelah beredarnya video pesan terakhir sang anak yang menyebut dirinya kemungkinan telah ditangkap Israel jika rekaman itu tersebar ke publik.

Dalam video tersebut, Andi Angga menegaskan dirinya membawa misi kemanusiaan, bukan senjata ataupun kegiatan terorisme. Keluarga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan seluruh WNI yang ikut dalam misi tersebut.

Hingga kini, lebih dari 24 jam sejak penahanan dilakukan, belum ada kejelasan mengenai kondisi dan nasib para aktivis maupun jurnalis internasional yang ditahan Israel.
(Red).

error: Content is protected !!