Rupiah Rp18 Ribu, Punokawan Buka Forum Siapa yang Menang Saat Rakyat Mengencangkan Ikat Pinggang?

5/5 - (1 vote)

GORO-GORO || Kolocokronews
Di sebuah pendopo sederhana, empat Punakawan berkumpul. Secangkir kopi hitam dan singkong rebus menjadi teman diskusi mereka. Topiknya bukan perang, bukan pula perebutan tahta, melainkan rupiah yang kini terpuruk di kisaran Rp18 ribu per dolar AS.

Semar mengusap janggutnya sambil tersenyum tipis.

“Kalau harga cabai naik, rakyat yang menangis. Tapi kalau dolar naik, ada yang bilang itu peluang. Pertanyaannya, peluang untuk siapa?”

Gareng mengangguk pelan.
“Segala sesuatu jangan buru-buru disimpulkan, Bapa. Kurs memang naik turun mengikuti ekonomi dunia. Jangan sampai prasangka lebih cepat daripada data.”

Petruk tertawa kecil.
“Betul, Reng. Tapi rakyat juga berhak bertanya. Kalau ada yang bisnisnya ekspor dan dibayar dolar, bukankah kantongnya bisa ikut mengembang saat rupiah melemah? Pertanyaan itu sah, selama tidak berubah menjadi tuduhan.”

Bagong yang sejak tadi sibuk mengupas singkong langsung menyela.
“Aku cuma tahu begini. Aku tidak punya dolar. Tetanggaku juga tidak punya dolar. Tapi kenapa harga barang di warung ikut naik gara-gara dolar? Jangan-jangan yang tidak kenal dolar justru paling sering bayar tagihannya.”

Semar tersenyum mendengar kepolosan anaknya.

“Itulah hidup, Gong. Kadang hujan turun di gunung, tetapi yang banjir sawah di bawah.”

Petruk kembali menimpali.
“Katanya eksportir bisa untung kalau dolar tinggi. Tapi tidak semua. Ada yang masih beli mesin impor, bahan baku impor, bahkan utangnya dolar. Jadi untungnya belum tentu sebesar yang dibayangkan.”

Gareng mengangkat telunjuk.
“Karena itu harus hati-hati. Jangan semua orang yang berkebun sawit dianggap tersenyum saat rupiah melemah. Dunia ekonomi tidak sesederhana hitam dan putih.”

Bagong mengernyit.
“Kalau begitu kenapa rakyat tetap merasa dompetnya makin tipis?”

Semar menatap langit.
“Karena ukuran ekonomi rakyat bukan grafik kurs di layar, melainkan berapa kilo beras yang bisa dibawa pulang.”

Suasana hening sejenak.

Petruk memecah kesunyian dengan nada khasnya.
“Yang menarik justru begini. Setiap kali rupiah melemah, masyarakat mulai menghitung siapa yang mungkin diuntungkan. Mereka bertanya apakah ada konflik kepentingan di balik kebijakan. Itu bukan dosa. Dalam demokrasi, bertanya adalah hak.”

Gareng segera menambahkan.
“Tetapi pertanyaan harus tetap dibatasi fakta. Jangan sampai prasangka dijadikan vonis. Transparansi lebih penting daripada saling menuduh.”

Bagong tertawa lebar.
“Kalau begitu pejabat tinggal buka saja semuanya. Biar rakyat tidak sibuk menerka-nerka. Kan lebih enak minum kopi daripada minum gosip.”

Semar mengangguk pelan.
“Kepercayaan tidak lahir karena rakyat dilarang bertanya. Kepercayaan lahir ketika jawaban diberikan dengan jujur.”

Di luar sana, layar-layar perdagangan masih sibuk menampilkan angka kurs yang berubah setiap detik. Namun di warung-warung kecil, yang dihitung bukan dolar, melainkan apakah uang belanja masih cukup hingga akhir pekan.

Petruk menatap cangkir kopinya yang mulai kosong.
“Akhirnya yang paling hebat bukan siapa yang untung saat rupiah melemah. Yang paling hebat adalah kebijakan yang membuat rakyat tidak ikut jatuh ketika mata uangnya goyah.”

Bagong menghabiskan singkong terakhir.
“Kalau rakyat harus terus mengencangkan ikat pinggang, jangan heran suatu hari yang longgar bukan cuma celana, tapi juga kesabaran.”

Semar menutup diskusi dengan senyum bijak.
“Negara yang kuat bukan diukur dari seberapa tinggi dolar, melainkan dari seberapa tenang rakyatnya membeli beras tanpa dihantui rasa cemas.”

Empat Punakawan pun pulang membawa renungan. Sebab kadang-kadang, suara paling jujur justru lahir dari obrolan sederhana di sudut pendopo, ketika kebijaksanaan, kehati-hatian, pemikiran kritis, dan kejujuran duduk di meja yang sama.
(Ant).

error: Content is protected !!