Punokawan Buka Forum : Listrik Padam, yang Menyala Justru Keluhan Rakyat

5/5 - (1 vote)

Malang || kolocokronews
Di bawah pohon beringin yang rindang, Semar duduk sambil menyeruput kopi. Gareng sibuk mengipasi diri karena udara terasa gerah. Petruk berkali-kali memencet ponselnya yang sudah tinggal satu persen baterai. Sementara Bagong mondar-mandir membawa ember kosong.

“Ada apa, Gong?” tanya Semar.
“Mau mandi, Bopo. Airnya habis. Pompa mati karena listrik padam,” jawab Bagong kesal.

Petruk ikut mengeluh.
“Bukan cuma air. Wi-Fi mati, modem mati, laptop mati. Tinggal cicilan yang tetap hidup.”

Gareng tertawa kecil.
“Begitulah zaman sekarang. Dulu orang bilang hidup itu tergantung nasi. Sekarang ternyata hidup tergantung colokan.”

Semar mengangguk pelan.
“Manusia membangun dunia yang serba digital, tapi lupa bahwa fondasinya masih listrik. Sekali padam, semuanya ikut lumpuh.”

Bagong duduk sambil menghela napas.
“Kemarin tetanggaku punya usaha cetak undangan. Mesin berhenti. Pelanggan marah. Hari ini mungkin omzetnya ikut padam.”

Petruk menimpali.
“Temanku kerja dari rumah. Saat rapat daring, listrik mati. Atasannya mengira dia kabur dari pekerjaan. Padahal dia cuma kalah sama gardu.”

Gareng menatap langit.
“Yang lucu, kalau pelanggan telat bayar listrik sehari saja, tagihan langsung berjalan. Ada denda, ada ancaman pemutusan. Tapi kalau listrik yang padam berjam-jam, balasannya sering cuma satu kalimat: kami mohon maaf.”

Bagong tertawa getir.
“Kalau begitu bulan depan aku bayar pakai permintaan maaf saja.”

“Jangan dicoba,” sahut Petruk cepat. “Nanti yang padam bukan listrik, tapi sambungan rumahmu.”

Semar tersenyum tipis.
“Itulah yang sedang dipikirkan rakyat. Kewajiban pelanggan dihitung dengan angka. Kerugian pelanggan sering dibalas dengan kata-kata.”

Semua terdiam sesaat.

Gareng lalu berkata lirih.
“Aku dengar ada ikan koi mati karena aerator berhenti lima jam. Nilainya belasan juta rupiah.”

Bagong mengangguk.
“Ikan itu tidak mengerti istilah pemeliharaan jaringan. Yang ia tahu hanya oksigen berhenti mengalir.”

Petruk menambahkan,
“Lebih sedih lagi ada anak yang sedang mengikuti Olimpiade Sains secara daring. Listrik padam, ujian gagal diselesaikan. Kesempatannya hilang bukan karena tidak pintar, tapi karena stop kontak lebih dulu menyerah.”

Semar menatap ketiga anaknya.
“Ilmu pengetahuan terus didorong masuk ke dunia digital. Sekolah memakai internet, ujian memakai komputer, pekerjaan memakai jaringan. Tapi kalau listriknya belum memberi rasa aman, maka kemajuan itu berdiri di atas pondasi yang rapuh.”

Gareng menghela napas panjang.
“Orang kecil selalu diminta mengerti. Saat listrik padam, diminta sabar. Saat harga naik, diminta maklum. Saat layanan terganggu, diminta memahami.”

Bagong menyela.
“Tapi saat rakyat telat membayar, sistem tidak pernah berkata, ‘kami mohon pengertiannya’.”

Semua tertawa, tetapi tawa itu terasa pahit.

Semar kemudian berkata dengan suara tenang.
“Rakyat tidak pernah meminta listrik tidak boleh padam. Jaringan memang perlu dirawat. Gangguan memang bisa terjadi. Yang diminta rakyat hanya sederhana: beri tahu lebih awal, pulihkan secepat mungkin, dan bertanggung jawablah bila ada kerugian nyata.”

Petruk mengangguk.
“Kalau tahu listrik akan padam, orang bisa mengisi daya laptop, menampung air, menyelamatkan makanan di kulkas, atau menyiapkan genset kecil.”

Gareng menambahkan,
“Yang membuat orang marah bukan hanya gelapnya rumah, tetapi gelapnya informasi.”

Semar pun menutup obrolan mereka.
“Listrik hari ini bukan sekadar lampu yang menyala. Ia menghidupi pendidikan, usaha kecil, pekerjaan, bahkan harapan anak-anak yang sedang mengejar cita-cita. Karena itu, ketika listrik padam, yang ikut redup bukan hanya bohlam, tetapi juga aktivitas dan kepercayaan masyarakat.”

Bagong menatap tiang listrik di kejauhan lalu berkata pelan,
“Mungkin benar, Mbah. Listrik memang dibayar dengan uang. Maka tanggung jawab atas pelayanannya juga semestinya nyata, bukan hanya berhenti pada kata maaf.”

Keempat punakawan itu kembali terdiam. Di kejauhan, lampu akhirnya menyala.

Namun di hati banyak orang, pertanyaan yang sejak tadi padam justru kembali hidup: dalam layanan publik yang dibayar oleh masyarakat, apakah permintaan maaf sudah cukup menjadi pengganti sebuah tanggung jawab?
(Red).

error: Content is protected !!