Kasus Kematian Remaja Surabaya Mulai Terkuak, Dugaan Pengeroyokan Dipicu Perselisihan Sandal Crocs

SURABAYA || kolocokronews
Minggu (7/6/2026) – Misteri meninggalnya Thomas Julianus Kristianto (19), remaja asal Surabaya, mulai menemukan titik terang. Aparat kepolisian kini mendalami dugaan pengeroyokan yang diduga dipicu oleh persoalan sepasang sandal bermerek Crocs yang sempat menjadi sumber perselisihan.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di kawasan Jalan Manukan Yoso II, Surabaya. Thomas, yang merupakan lulusan SMAN 11 Surabaya, diduga menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah orang yang diketahui masih berada dalam lingkaran pertemanannya sendiri.

Kasi Humas Polrestabes Surabaya AKP Hadi Ismanto mengatakan penanganan perkara kini dilakukan oleh Unit Resmob Polrestabes Surabaya. Hingga saat ini, empat orang telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Keempat terduga pelaku berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU. Meski demikian, polisi masih belum membeberkan secara rinci kronologi kejadian maupun peran masing-masing pihak dalam insiden yang menyebabkan korban kehilangan nyawa tersebut.

Informasi yang berkembang di lingkungan sekitar menyebutkan bahwa konflik bermula dari hilangnya sandal Crocs milik salah satu terduga pelaku. Seorang tetangga sekaligus sahabat masa kecil korban, FAP, mengungkapkan bahwa Thomas diduga sempat menemukan atau menggunakan sandal tersebut hingga memicu kesalahpahaman.

Menurutnya, persoalan yang awalnya tampak sepele itu kemudian berkembang menjadi pertikaian yang berujung pada aksi kekerasan terhadap korban.

Keterangan serupa disampaikan kakak korban, Hana Novia Kristiani (32). Ia menjelaskan bahwa masalah tersebut sebenarnya telah muncul sejak Mei 2026 ketika adiknya menggunakan sandal yang tertinggal di rumah salah seorang temannya.

Setelah sandal itu dinyatakan hilang, pemiliknya meminta ganti rugi kepada Thomas. Pihak keluarga pun mengaku telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dengan memberikan uang pengganti serta membelikan sandal baru sebagai bentuk tanggung jawab.

Menurut Hana, dengan adanya penggantian tersebut, keluarga menganggap persoalan telah selesai dan tidak lagi menyisakan kewajiban apa pun.

Namun, persoalan rupanya belum benar-benar berakhir. Terduga pelaku disebut masih merasa keberatan karena menganggap sandal pengganti yang diberikan memiliki nilai sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, sementara sandal yang hilang diklaim bernilai hingga Rp1,5 juta.

Hana mengaku mempertanyakan klaim harga tersebut karena hingga kini pihak keluarga tidak pernah diperlihatkan bukti pembelian yang dapat menguatkan nilai sandal dimaksud.

Kini keluarga berharap kepolisian dapat mengusut tuntas kasus tersebut secara profesional dan mengungkap seluruh fakta yang terjadi, sehingga setiap pihak yang terbukti bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum yang berlaku dan keadilan bagi korban dapat terwujud.
(Red).

error: Content is protected !!