Punokawan Buka Forum Setelah Memilih, Jangan Hanya jadi Penonton

5/5 - (1 vote)

Goro-Goro || kolocokronews
Di sebuah gardu sederhana, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong duduk menikmati sore. Secangkir kopi dan sepiring singkong rebus menemani obrolan yang pelan-pelan mengarah pada urusan negeri.

Bagong memecah keheningan.“Bopo, aku ini bingung. Waktu pemilu, semua orang sibuk bilang suara rakyat itu mahal. Setelah pemimpin terpilih, rakyat malah disuruh diam. Kalau protes dibilang nyinyir, kalau bertanya dianggap tidak mendukung.”

Semar tersenyum kecil.
“Itulah lucunya, Gong. Banyak yang mengira tugas rakyat selesai di bilik suara. Seolah setelah mencoblos, hak untuk bertanya ikut dimasukkan ke dalam kotak suara.”

Petruk tertawa pelan.
“Padahal waktu kampanye, rakyat dicari sampai masuk gang sempit. Tangan disalami, pundak ditepuk, senyum dibagikan. Setelah duduk di kursi empuk, yang dicari malah pagar tinggi dan protokol berlapis.”

Gareng mengangkat gelasnya sambil menggeleng.
“Tapi rakyat juga kadang aneh. Sebelum terpilih bilang, ‘Kami titip masa depan negeri.’ Setelah terpilih berubah jadi, ‘Ya sudahlah, bukan urusan saya lagi.’ Lalu lima tahun dihabiskan hanya mengeluh di kolom komentar.”

Bagong tertawa.
“Benar juga. Jarinya paling cepat di media sosial, tapi paling lambat bertanya dengan data. Kalau ada kebijakan yang memberatkan, diam. Kalau ada pelayanan buruk, diam. Giliran ada gosip, langsung jadi ahli.”

Semar memandang jauh ke arah jalan desa.
“Demokrasi itu bukan menyewa pemimpin selama lima tahun lalu membiarkannya bekerja tanpa pengawasan. Pemimpin diberi amanah, dan amanah harus terus diingatkan. Mengkritik dengan niat memperbaiki bukan permusuhan, melainkan bentuk kepedulian.”

Petruk menimpali dengan senyum satir.
“Yang lebih lucu lagi, ada yang menganggap mengawasi pemerintah itu tindakan oposisi. Padahal kalau seorang sopir membawa penumpang ke jalan yang salah, masa penumpangnya cuma diam sambil bilang, ‘Pokoknya saya setia ikut ke mana pun mobil ini melaju’?”

Gareng mengangguk pelan.
“Kesetiaan itu bukan membenarkan semua tindakan. Kesetiaan yang sejati justru berani mengingatkan ketika arah mulai melenceng.”

Bagong lalu bersandar sambil tersenyum.
“Jadi jangan cuma semangat saat memilih. Kalau sudah ikut menentukan siapa yang memegang kemudi, ikut pula memastikan kendaraan ini tidak masuk jurang.”

Semar menutup obrolan yang membuat suasana hening.
“Jangan hanya menjadi penonton karena suara yang pernah kau berikan bukan sekadar hak yang sudah selesai digunakan. Itu adalah titipan harapan. Dan harapan yang ditinggalkan tanpa pengawasan, sering kali berubah menjadi penyesalan.”

(Ant).

error: Content is protected !!