Jakarta || kolocokronews
– Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Mata uang Garuda kembali mencatatkan titik terlemah sepanjang sejarah setelah ditutup di level Rp17.931 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan posisi tersebut menjadi rekor terendah baru rupiah terhadap mata uang Paman Sam. Angka itu juga menandai pelemahan sebesar 0,38 persen dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.863 per dolar AS.
Ironisnya, pelemahan ini terjadi setelah rupiah sempat menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa. Namun tekanan pasar yang masih kuat membuat mata uang nasional kembali kehilangan tenaga dan melanjutkan tren penurunan.
Kondisi tersebut tidak hanya dialami Indonesia. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS yang masih menunjukkan dominasinya di pasar global.
Ringgit Malaysia tercatat turun 0,53 persen ke level 3,986 per dolar AS. Sementara itu, dong Vietnam melemah 0,6 persen hingga menyentuh posisi 26.345 per dolar AS.
Tekanan serupa juga dialami baht Thailand yang terkoreksi 0,34 persen menjadi 32,74 per dolar AS. Di sisi lain, peso Filipina melemah 0,13 persen ke level 61,755 per dolar AS, sedangkan yuan China turun 0,12 persen ke posisi 6,771 per dolar AS.
Melemahnya berbagai mata uang Asia menunjukkan kuatnya tekanan eksternal yang berasal dari penguatan dolar AS serta dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia memastikan terus memantau perkembangan pasar keuangan, baik di tingkat global maupun domestik. Otoritas moneter juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah yang dinilai diperlukan.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pihaknya akan tetap hadir di pasar dengan kebijakan yang konsisten dan terukur guna menjaga kestabilan rupiah.
“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik, serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).
Pelemahan rupiah yang kembali mencetak rekor baru kini menjadi perhatian pelaku pasar dan dunia usaha, mengingat pergerakan nilai tukar memiliki dampak langsung terhadap biaya impor, inflasi, hingga aktivitas ekonomi nasional.
Source:databoxs
(Red).
