Malang || kolocokronews
_Laga Arema FC kontra Persija Jakarta di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (8/11/2025), menyisakan drama panas menjelang pertandingan bubar. Suasana yang awalnya dipenuhi harmoni dua kelompok suporter, Aremania dan Jakmania, mendadak berubah riuh ketika keributan pecah di area bench pemain.
Ketegangan dipicu oleh insiden adu mulut antara Paulinho Mocellin (Arema) dengan Allano (Persija). Situasi itu segera menyulut emosi official di area pinggir lapangan. Protes keras disuarakan kubu Persija, dan respon dari bench Arema membuat keadaan kian tak terkendali.
Wasit Yudi Nurcahya terpaksa menghentikan jalannya laga beberapa menit untuk menenangkan suasana. Bahkan beberapa pemain yang berada di tengah lapangan sempat ikut mendekat mencoba mengetahui situasi. Sorakan penonton pun menggema, baik dari Aremania maupun Jakmania, yang menyaksikan langsung dinamika panas itu.
Kericuhan yang terjadi tepat di depan bench Persija berujung pada keputusan tegas wasit. Tiga kartu merah melayang, dua untuk official tim Persija dan satu untuk asisten pelatih Arema FC, Andre Caldas.
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, menegaskan bahwa pihaknya sebenarnya mencoba meredam situasi agar pertandingan bisa dilanjutkan.
“Saya coba melerai agar laga tetap mengalir, kami masih ingin mengejar gol. Tapi kejadian pada Paulinho membuat segalanya jadi sulit dikendalikan,” ujar Santos.
Sementara itu, pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, menyebut kejadian itu sebagai hal yang memalukan untuk sepak bola Indonesia.
“Sepak bola itu diputuskan di lapangan, bukan untuk adu fisik. Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang,” tegasnya.
Mauricio juga menyayangkan keputusan wasit yang memberikan dua kartu merah ke officialnya.
“Bench Arema yang datang ke sisi kami, tapi kami diberi dua kartu dan Arema hanya satu. Saya rasa itu aneh. Tapi saya tak mau berbicara lebih jauh soal wasit.”
Menariknya, meski panas di bench, atmosfer di tribun justru sebaliknya. Aremania dan Jakmania terlihat akrab, berbaur, dan sama-sama memberi dukungan dengan damai — pemandangan langka dalam sejarah rivalitas dua klub besar ini.
Pertandingan yang sarat drama ini akhirnya dimenangkan Persija Jakarta dengan skor tipis 1-2. Meninggalkan catatan: harmoni suporter terjaga, tetapi emosi di pinggir lapangan pecah tak terbendung.
(Red).
