BANDUNG BARAT || kolocokronews
— Bencana tanah longsor menerjang lokasi latihan prajurit TNI Angkatan Laut di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Peristiwa tragis ini menimpa area latihan Korps Marinir yang tengah menjalani persiapan penugasan pengamanan perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Papua Nugini.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali membenarkan bahwa terdapat 23 prajurit Korps Marinir yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Seluruh prajurit berasal dari Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa, Brigif 4 Marinir/Berdiri Sendiri (BS), yang saat itu sedang melaksanakan Latihan Pratugas Satgas Gobang 7.
Latihan tersebut merupakan tahapan akhir sebelum para prajurit diberangkatkan untuk menjalankan tugas pengamanan perbatasan RI–Papua Nugini. Namun, kondisi cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut berujung pada bencana alam yang tidak terduga.
Longsoran besar dari lereng perbukitan terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama hampir dua hari berturut-turut. Material tanah dan bebatuan tidak hanya menimbun lokasi latihan, tetapi juga menerjang kawasan perkampungan warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.
KSAL menyampaikan bahwa hingga saat ini proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan. Dari total prajurit yang tertimbun, empat personel telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara sisanya masih dalam upaya pencarian oleh tim gabungan.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI M. Syafi’i menjelaskan bahwa medan berat, luasnya area longsoran, serta kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam operasi SAR. Jarak antara mahkota longsor hingga lidah longsoran mencapai sekitar 209 meter, sehingga pencarian harus dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian.
“Alat berat belum bisa masuk karena akses jalan sempit dan kondisi tanah yang masih labil. Namun pencarian terus dilakukan dengan memaksimalkan teknologi, seperti drone, kamera termal, serta anjing pelacak,” ujar Syafi’i.
Basarnas bertindak sebagai koordinator operasi SAR dengan dukungan penuh dari TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga terkait. Lebih dari 250 personel terlatih diterjunkan langsung di lokasi, didukung ratusan personel tambahan dan unsur udara berupa 12 unit drone.
Hingga Senin (26/1/2026) malam, tim gabungan telah mengevakuasi sebanyak 34 kantong jenazah korban longsor dari wilayah Desa Pasirlangu. Seluruh proses evakuasi masih terus dilanjutkan seiring upaya pencarian korban yang diduga masih tertimbun material longsoran.
Tragedi ini menjadi duka mendalam tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi institusi TNI Angkatan Laut dan masyarakat luas, di tengah pengabdian prajurit yang tengah bersiap menjalankan tugas negara.
(Red).
