Lumajang || kolocokronews
— Selasa, 25 November 2025 -Pasca erupsi Gunung Semeru pada 19 November lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melakukan pemetaan ulang kawasan rawan bencana di wilayah kaki gunung. Teknologi drone termal diterjunkan untuk memindai area yang terdampak awan panas guguran, termasuk zona yang sulit dijangkau tim darat.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati Menerangkan,Drone termal digunakan untuk menangkap citra temperatur permukaan sehingga titik panas, jalur luncuran material, dan bekas sebaran awan panas dapat teridentifikasi dengan detail. Metode ini dinilai lebih efektif, terutama untuk memonitor area bervegetasi lebat dan lembah yang tak terlihat dari permukaan.
“Citra termal membantu kami mengetahui pergerakan panas residu dan jalur material yang tidak terlihat mata,” ujar pejabat BNPB yang terlibat dalam operasi pemetaan.
Pemetaan lanjutan ini tidak hanya fokus pada jejak erupsi, tetapi juga merumuskan ulang potensi bahaya sekunder yang muncul setelah letusan. Ancaman seperti banjir lahar, longsoran tebing sungai, hingga terbentuknya bendungan alami akibat material erupsi menjadi fokus analisis.
Menambahkan, Raditya Jati “Kami berkoordinasi dengan BPBD Lumajang untuk memperbaiki delineasi risiko. Ada perubahan kontur, endapan tebal, dan ancaman baru yang harus dimasukkan dalam peta terbaru,” jelas pejabat BNPB tersebut.
Hasil pemetaan akan menjadi acuan bagi peringatan dini, jalur evakuasi, hingga relokasi mandiri warga yang bermukim dekat aliran sungai berhulu di Semeru.
Selama lima tahun terakhir, aktivitas erupsi Semeru berdampak langsung pada kawasan permukiman, terutama di sektor tenggara dan selatan. Peta kawasan rawan bencana sebelumnya telah direvisi pada 1996 dan kembali diperbarui pada 2021. Kini, pasca erupsi 2025, pemutakhiran kembali dilakukan untuk menyesuaikan kondisi morfologi terbaru.
Pembaruan ini diyakini akan memberikan gambaran lebih akurat mengenai tingkat ancaman di setiap sektor, sehingga mitigasi di lapangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan terkini.
Setelah pemetaan rampung, BNPB dan BPBD Lumajang akan menyusun rekomendasi teknis, termasuk pembatasan aktivitas di zona merah, pembuatan jalur alternatif evakuasi, dan penguatan peringatan dini berbasis sensor.
“Semeru adalah gunung yang sangat dinamis. Pembaruan peta adalah langkah penting untuk menyesuaikan mitigasi dengan kondisi terbaru,” tambah pejabat BNPB tersebut.
Pemetaan drone ini diharapkan selesai dalam beberapa hari ke depan, sebelum diserahkan sebagai bahan mitigasi permanen bagi pemerintah daerah dan masyarakat di lereng Semeru.
(Red).
