MALANG || KOLOCOKRONEWS
– Perpaduan tradisi, doa, dan semangat kebersamaan mewarnai peringatan Hari Jadi ke-1.121 Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Melalui ritual Grama Tirta Cara, masyarakat menyatukan tujuh sumber mata air sebagai simbol rasa syukur atas karunia alam sekaligus penghormatan kepada para leluhur.


Kegiatan yang digelar di kawasan Wisata Pentungansari, Minggu (18/10/2026), mulai pukul 09.00 WIB tersebut diikuti ratusan warga dan dihadiri unsur pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pegiat budaya.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni hari jadi. Di balik rangkaian ritual yang berlangsung khidmat, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur, merawat sumber kehidupan, dan memperkuat persatuan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dibuka oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Aris Sugianto, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Toyomarto.
Surah Al-Fatihah dibacakan bersama untuk mendoakan para leluhur dan pendahulu desa yang telah berkontribusi dalam perjalanan panjang Toyomarto. Mereka dikenang sebagai bagian dari sejarah yang turut mengantarkan desa hingga berkembang seperti sekarang.
Suasana khidmat menyelimuti lokasi kegiatan ketika ratusan warga mengikuti doa tersebut. Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah desa tidak terlepas dari perjuangan, pengabdian, dan kebersamaan generasi terdahulu.
Setelah doa, suasana beralih menjadi lebih semarak melalui penampilan tari Gambyong. Seni tari tradisional itu menjadi bagian dari rangkaian budaya yang mengantarkan masyarakat menuju prosesi utama.
Puncak acara berlangsung saat prosesi penyatuan tujuh sumber mata air Desa Toyomarto dimulai. Dalang Ki Ardi Purbo Antono memandu jalannya ritual sembari menguraikan makna dan filosofi penyatuan air tersebut.
Para pembawa kendi mengikuti prosesi menuju tempat penyatuan. Kepala dusun dan ketua RW turut mengambil posisi mengelilingi wadah yang telah disiapkan, menjadi bagian dari rangkaian tradisi yang melibatkan unsur masyarakat.
Satu demi satu air dari tujuh sumber kemudian disatukan dalam sebuah wadah. Prosesi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber mata air yang memiliki peran penting bagi kehidupan.
Air merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia dan lingkungan. Keberadaannya menopang aktivitas rumah tangga, pertanian, serta berbagai kebutuhan masyarakat. Karena itu, ritual penyatuan mata air juga dapat menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian sumber air agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Melalui tradisi ini, masyarakat diajak melihat alam bukan semata-mata sebagai sumber pemenuhan kebutuhan, melainkan juga sebagai amanah yang perlu dirawat bersama.
Peringatan Hari Jadi Desa Toyomarto tersebut turut dihadiri anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Fraksi PKB Hj. Hikmah Bawaqih, M.Pd.; Dyah Sukma dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur; serta Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Firnando Hasiholan Matondang.
Hadir pula Kapolsek Singosari AKP Achmad Zainuddin, S.H., M.M.; Camat Singosari Wellem, S.Sos., M.Ling.; Serma Choirus yang mewakili Danramil Singosari; dan Kepala Desa Toyomarto Sumito, S.H.
Sejumlah tokoh lainnya juga tampak hadir, di antaranya Kyai Su’udi Al Faruq, mantan kepala desa Sunari dan Rijik, Ketua BPD Aris Sugianto, Ketua LPMD M. Yusuf, serta pendamping desa Shyeh Pambudi.
Kegiatan tersebut juga melibatkan tujuh kepala dusun, ketua RT dan RW se-Desa Toyomarto, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), budayawan Singosari, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Keterlibatan berbagai elemen tersebut memperlihatkan bahwa tradisi desa dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah dan warga.
Usia panjang Desa Toyomarto menjadi pengingat akan pentingnya merawat identitas lokal di tengah perubahan zaman. Tradisi seperti Grama Tirta Cara memiliki nilai yang dapat terus diwariskan, terutama dalam membangun rasa hormat kepada leluhur, kepedulian terhadap alam, dan semangat gotong royong.
Peringatan hari jadi ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi juga menjadi dorongan bagi masyarakat untuk menjaga sumber mata air, melestarikan kebudayaan, serta mempertahankan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat kebersamaan yang tercermin dalam penyatuan tujuh sumber mata air, Desa Toyomarto diharapkan terus berkembang tanpa meninggalkan akar sejarah dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari jati dirinya.
(Red).
