Kapal Perang Produksi PT PAL Tampil di Latihan A2/AD, TNI AL Tegaskan Kesiapan Jaga Kedaulatan

Rate this post

TNI AL || kolocokronews -Perairan Bangka Belitung menjadi panggung unjuk kesiapan tempur TNI Angkatan Laut dalam Latihan Anti-Akses dan Anti-Amfibi (A2/AD). Latihan ini tidak sekadar simulasi, tetapi cerminan soliditas antar unsur laut dalam menjaga kedaulatan sekaligus mengamankan aset strategis negara.

Sejumlah kapal perang Republik Indonesia (KRI) dikerahkan dalam manuver taktis tersebut. Menariknya, beberapa di antaranya merupakan hasil produksi dalam negeri oleh PT PAL Indonesia. Kehadiran kapal-kapal ini menegaskan peran industri pertahanan nasional dalam memperkuat armada laut Indonesia.


Di garis depan, KRI Raden Eddy Martadinata (331) tampil sebagai kapal jenis light frigate dengan kemampuan peperangan modern. Dilengkapi radar canggih serta sistem persenjataan untuk pertahanan udara dan permukaan laut, kapal ini dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman dalam operasi tempur terpadu.


Sementara itu, KRI Semarang (594) memainkan peran vital dalam mobilitas pasukan dan distribusi logistik. Sebagai kapal jenis Landing Platform Dock (LPD), KRI Semarang menjadi tulang punggung dalam pengangkutan personel dan perlengkapan, khususnya di wilayah kepulauan yang membutuhkan kecepatan serta daya jelajah tinggi.


Tak kalah sigap, KRI Halasan (630) hadir sebagai kapal cepat rudal (KCR). Dengan karakter lincah dan daya pukul mematikan, kapal ini dirancang untuk respons cepat, termasuk dalam operasi penegakan hukum di laut terhadap berbagai aktivitas ilegal.
Latihan A2/AD kali ini juga melibatkan pesawat udara, drone kamikaze, serta personel gabungan dari unsur laut dan Korps Marinir. Kolaborasi lintas matra tersebut menunjukkan kesiapan TNI AL dalam menghadapi potensi ancaman yang semakin kompleks di wilayah perairan nasional.

Melalui latihan ini, TNI AL tidak hanya menguji kemampuan taktis dan koordinasi antar unsur, tetapi juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas maritim Indonesia. Kehadiran kapal perang produksi dalam negeri menjadi bukti bahwa kemandirian industri pertahanan terus berkembang, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pengamanan aset negara di laut

(Red).

error: Content is protected !!