BPBD Lumajang Pasang 12 CCTV dan 4 EWS, Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Semeru

Rate this post

LUMAJANG || kolocokronews
– Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memperkuat langkah mitigasi bencana. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan 12 kamera pengawas (CCTV) dan empat unit sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di sepanjang jalur aliran lahar Semeru.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pengawasan kawasan rawan bencana secara real-time sekaligus mempercepat proses evakuasi apabila terjadi kondisi darurat.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, S.Sos, mengatakan seluruh perangkat yang telah dipasang saat ini berfungsi dengan baik dan terus digunakan untuk memantau perkembangan aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.

“Semua perangkat beroperasi untuk mendukung pemantauan kawasan rawan bencana sehingga respons evakuasi dapat dilakukan lebih cepat ketika diperlukan,” ujarnya, Senin (1/6/2026).

Sebanyak 12 titik CCTV ditempatkan di sejumlah lokasi strategis, yakni Batu Padat, Piket Nol, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Watu Kobong, Pos Curah Kobokan, Supiturang, Antrukan, titik penyeberangan Curah Kobokan, Simbar, hingga Daerah Aliran Sungai (DAS) Kobokan.

Sementara itu, empat perangkat EWS lengkap dengan sirene dipasang di kawasan yang dinilai memiliki tingkat risiko tinggi, seperti Batu Padat, Desa Supiturang, Pos Curah Kobokan, dan Antrukan.

Isnugroho menjelaskan, masyarakat perlu memahami arti bunyi sirene yang dikeluarkan sistem peringatan dini tersebut. Jika sirene berbunyi putus-putus, warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi kemungkinan evakuasi. Namun apabila terdengar bunyi panjang dan terus-menerus, kondisi tersebut menandakan adanya ancaman bahaya sehingga masyarakat harus segera menuju lokasi aman.

“Jika sirene berbunyi panjang tanpa henti, warga harus segera melakukan evakuasi dan menjauh dari kawasan yang berpotensi terdampak,” tegasnya.

Hingga saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat BPBD bersama instansi terkait terus meningkatkan pengawasan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik.

Pada Jumat lalu, Semeru tercatat mengalami awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 2.500 meter. Meski tidak diikuti awan panas susulan, peristiwa tersebut menjadi perhatian serius bagi petugas pemantau.

Selain itu, aktivitas tremor harmonik juga masih terdeteksi dalam 12 jam terakhir. Fenomena tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau karena dapat menunjukkan adanya dinamika di dalam tubuh gunung.

Dengan dukungan sistem pemantauan berbasis teknologi dan kesiapsiagaan masyarakat, BPBD Lumajang berharap risiko korban akibat potensi erupsi maupun banjir lahar dapat diminimalkan, sekaligus memastikan warga yang berada di sekitar kawasan rawan bencana mendapatkan peringatan lebih dini saat kondisi darurat terjadi.
(Red).

error: Content is protected !!