Investigasi || kolocokronews
Kamis, 4 Desember 2025 – Rentetan banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan dugaan kuat mengenai penyebab utamanya. Di balik curah hujan ekstrem yang dipicu siklon tropis, para pakar menyebut bahwa kerusakan lingkungan diduga menjadi faktor terbesar yang memperparah bencana hingga menelan ratusan korban jiwa.
Dalam laporan harian Kompas, Sumatera disebut telah kehilangan kawasan hijau secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Lahan hutan yang semestinya menjadi penyangga air diduga telah banyak berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, permukiman, hingga kawasan pertambangan. Akibatnya, kemampuan tanah untuk menyerap air menurun drastis, membuat hujan deras lebih mudah berubah menjadi banjir besar.
Pakar hidrologi Universitas Padjadjaran, Chay Asdak, menjelaskan terdapat dua dimensi penyebab bencana ini: curah hujan ekstrem dan daya tahan bumi yang melemah. Ia menegaskan bahwa degradasi lingkungan diduga menjadi pemicu yang memperbesar dampak bencana, terutama di kawasan pegunungan yang kini sulit menahan aliran air.
“Ketika kemampuan tanah menyerap air hilang, hujan deras akan langsung menjadi aliran permukaan yang mematikan,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Harry Andreas. Ia menyebut banjir tidak hanya soal curah hujan, tetapi juga bagaimana air diserap dan dikelola permukaan bumi. Wilayah dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki daya serap air jauh lebih tinggi—dan penurunan tutupan ini diduga menjadi penyebab meningkatnya run-off.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan skala alih fungsi lahan yang besar. Di Riau, perkebunan sawit mencapai 3,4 juta hektar atau 38% dari total luas provinsi pada 2023. Sementara di Sumatera Utara, kebun sawit mencapai 1,57 juta hektar atau 21,5% wilayah.
Chay Asdak menduga bahwa lemahnya pengawasan tata guna lahan dapat membuka celah bagi praktik-praktik yang merusak lingkungan. Ia menekankan pentingnya memperketat izin pemanfaatan lahan agar program-program nasional tidak ditumpangi kegiatan yang berpotensi merusak ekosistem.
Dengan lebih dari 400 korban jiwa, bencana ini menjadi alarm keras bahwa kerusakan lingkungan diduga menjadi akar masalah yang paling serius. Hutan yang hilang, tutupan lahan yang berubah, dan eksploitasi yang tidak terkendali membuat satu kali hujan ekstrem mampu memicu bencana berskala besar.
Ketika vegetasi ditebang, kemampuan tanah menyerap air juga ikut hilang. Hujan yang semestinya meresap kini berubah menjadi arus deras yang membawa lumpur, kayu, hingga menimbulkan korban.
Para pakar menduga bahwa tanpa perbaikan tata kelola lahan dan pengawasan yang lebih kuat, bencana serupa akan terus berulang. Pemerintah diharapkan memperketat regulasi, memulihkan kawasan hijau, serta mempercepat penyampaian informasi cuaca ekstrem kepada masyarakat agar langkah kesiapsiagaan dapat dilakukan lebih dini.
Bencana di Sumatera menjadi pengingat bahwa dugaan kerusakan lingkungan bukan sekadar wacana, tetapi ancaman nyata yang dampaknya sudah terlihat jelas.
(Red).
