Jakarta | kolocokronews
— Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan ratusan jembatan yang dibangun oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas di berbagai wilayah, terutama daerah terpencil. Peresmian tersebut berlangsung pada Senin (9/3/2026) dan menjadi simbol nyata pengabdian TNI kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur sederhana seperti jembatan gantung di daerah terpencil memiliki makna strategis bagi kehidupan rakyat, khususnya bagi masyarakat desa yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
Menurut Prabowo, pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan proyek besar, tetapi juga berkomitmen menjawab kebutuhan dasar masyarakat, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pembangunan.
“Bagi sebagian orang mungkin jembatan kecil tidak dianggap strategis, tetapi bagi rakyat di desa terpencil jembatan itu sangat penting. Anak-anak bisa pergi ke sekolah dengan aman dan masyarakat tidak lagi menghadapi bahaya saat menyeberangi sungai,” ujarnya.
Dalam peresmian tersebut, Presiden secara resmi membuka penggunaan 77 jembatan Bailey, 59 jembatan Armco, dan 82 jembatan perintis yang dibangun oleh satuan tugas TNI di berbagai wilayah Indonesia.
Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh prajurit TNI dan jajaran yang terlibat dalam pembangunan tersebut. Ia menilai keberhasilan pembangunan jembatan dalam waktu relatif singkat merupakan bukti nyata dedikasi dan disiplin prajurit TNI sebagai tentara rakyat yang mengabdi kepada bangsa dan negara.
“TNI adalah tentara rakyat, tentara pejuang, dan tentara nasional yang berdiri untuk seluruh bangsa Indonesia,” tegasnya.
Selain menyoroti pembangunan infrastruktur, Presiden juga mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi situasi yang tidak menentu akibat konflik global, termasuk perang di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memicu berbagai dampak ekonomi yang harus diantisipasi oleh Indonesia.
Ia menegaskan pemerintah tidak akan menutup-nutupi berbagai tantangan yang mungkin muncul, namun optimistis Indonesia memiliki kekuatan untuk menghadapi situasi tersebut.
“Kita harus berani menghadapi kesulitan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan yang ada. Tetapi bangsa Indonesia memiliki kekuatan besar untuk melewati masa sulit,” katanya.
Presiden juga menekankan pentingnya pemberantasan korupsi sebagai langkah utama untuk menjaga kekuatan ekonomi nasional. Menurutnya, praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, serta kolusi dengan pengusaha yang tidak bertanggung jawab menjadi salah satu penyebab kebocoran keuangan negara.
Ia menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia sangat besar, sehingga jika dikelola dengan baik dan bebas dari korupsi, negara akan memiliki kemampuan lebih kuat menghadapi berbagai krisis global.
“Kita harus memerangi korupsi di setiap tingkat. Kebocoran negara harus dihentikan agar kekayaan bangsa bisa digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.
Prabowo juga menyinggung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang dinilai menjadi kunci menghadapi gejolak global. Ia menyebut Indonesia saat ini hampir mencapai swasembada pangan, khususnya beras sebagai makanan pokok masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pengembangan sumber energi alternatif dari sumber daya domestik seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu guna mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Di akhir sambutannya, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap bersatu, bekerja keras, dan menjaga solidaritas nasional dalam menghadapi berbagai tantangan global yang tidak menentu.
“Kita harus rukun dan bersatu. Jika kita bersama, kita akan mampu melewati semua kesulitan dan keluar dari krisis dalam keadaan lebih kuat,” pungkasnya.
(Red)
