Headline

Dedy Mulyadi Menangis, Kritik Keras Perusakan Alam: “Mengaku Nasionalis Tapi Membiarkan Alam Rusak Itu Pembohong”

5/5 - (1 vote)

Nasional || kolocokronews
Selasa, (9/12/2025) – Tokoh budayawan sekaligus pejabat publik Dedy Mulyadi melontarkan kritik tajam terhadap praktik perusakan lingkungan yang masih marak terjadi di Indonesia. Dalam sebuah pernyataan yang viral di media sosial, Dedy bahkan tak kuasa menahan air mata saat menyinggung rusaknya hutan, sungai, laut, hingga mengeringnya mata air.

Dedy menegaskan, seseorang tidak layak mengaku nasionalis dan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) apabila membiarkan alam dieksploitasi tanpa kendali. Menurutnya, pembabatan hutan, pengurukan sungai dan laut, serta perusakan kawasan hulu sungai adalah bentuk pengkhianatan terhadap bangsa.

“Kalau mengaku nasionalis tapi membiarkan hutan dibabat, sungai dan laut diuruk, dan mata air mengering, saya katakan Anda pembohong dan tidak mencintai Indonesia,” tegas Dedy.

Dalam pandangan Dedy, kecintaan kepada Tuhan tidak cukup diwujudkan melalui ritual keagamaan semata. Ia menyoroti bahwa masyarakat Indonesia sangat taat dalam ritual, namun kerap melupakan hukum Tuhan yang paling nyata dan universal, yakni hukum alam.

Ia menjelaskan bahwa hukum matahari, tanah, air, dan udara tidak pernah berubah serta tidak membutuhkan tafsir. Menurutnya, mencintai Tuhan berarti tunduk pada kausalitas dan sebab-akibat alam. Ketika alam dilanggar, bencana adalah konsekuensi yang tak terhindarkan.

Dedy juga mengungkap kegelisahan generasi muda yang mulai menggugat kondisi bangsa. Ia menyinggung perbandingan antara masa penjajahan dan masa kemerdekaan, yang kini ramai diperbincangkan di media sosial oleh anak-anak muda.

“Penjajahan ratusan tahun meninggalkan gunung yang utuh dan sungai jernih. Indonesia merdeka puluhan tahun, justru gunung gundul, sungai keruh, utang menggunung, dan infrastruktur mudah rusak. Pertanyaannya, siapa sebenarnya penjajah itu?” ujarnya.

Lebih lanjut, Dedy mengkritik kebiasaan penanganan bencana yang bersifat reaktif. Saat bencana terjadi, semua pihak sibuk melakukan perbaikan. Namun ketika situasi kembali normal, kesalahan yang sama kembali diulangi.

Dari sisi ekonomi, Dedy menilai eksploitasi sumber daya alam tidak sebanding dengan biaya yang harus ditanggung negara akibat bencana. Keuntungan triliunan rupiah dari eksploitasi alam, menurutnya, kalah jauh dibanding kerugian puluhan hingga ratusan triliun rupiah saat bencana melanda.

“Kita rugi secara moral, ekologis, dan ekonomi,” pungkasnya.

Pernyataan Dedy Mulyadi tersebut menjadi sorotan luas publik dan memantik diskusi tentang makna nasionalisme sejati, yang tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui keberpihakan nyata pada kelestarian alam dan masa depan bangsa.
(Red).

error: Content is protected !!