Internasional || kolocokronews
Rabu(4/3/2026) ~ International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan tidak menemukan bukti program senjata nuklir sistematis di Iran.
Donald Trump kembali menuding Teheran sebagai biang kerusuhan di Timur Tengah.
Benjamin Netanyahu disebut ikut berada dalam poros kebijakan keras terhadap Iran.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah dialog di Jenewa berakhir tanpa hasil. Situasi kian panas menyusul pernyataan Presiden Amerika, Donald Trump, yang menyalahkan Iran atas gelombang kerusakan di sejumlah negara Timur Tengah dalam 48 jam terakhir.
Pernyataan itu muncul meski laporan terbaru dari International Atomic Energy Agency (IAEA) di bawah naungan PBB menyebut belum ada bukti bahwa Iran menjalankan program senjata nuklir secara sistematis. Temuan tersebut justru berbanding terbalik dengan narasi Washington yang terus menggaungkan ancaman nuklir Teheran
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan tidak lagi sebatas retorika. Sejumlah pangkalan militer dan fasilitas diplomatik Amerika di kawasan Teluk dilaporkan menjadi sasaran serangan. Di Riyadh, dua rudal dilaporkan menghantam area yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat. Serangan serupa juga dikabarkan menyasar fasilitas di Bahrain, Doha, hingga Kuwait.
Analis Timur Tengah, Faisal Aseggaf,Dalam wawancara metrotvnews menilai negara-negara Teluk kini berada dalam posisi sulit. Selama puluhan tahun mereka mengizinkan pangkalan militer Amerika berdiri di wilayahnya. Namun dalam konflik terbuka seperti saat ini, justru fasilitas tersebut berpotensi menjadi target balasan.
“Iran ingin menunjukkan bahwa pangkalan militer Amerika di kawasan bukanlah titik yang kebal,” ujarnya.
Menurut sejumlah laporan kawasan, beberapa negara Teluk mulai meminta tambahan sistem pertahanan udara karena persediaan amunisi disebut menipis. Iran disebut mengombinasikan serangan drone dengan rudal balistik, termasuk varian hipersonik, yang menyulitkan sistem pertahanan konvensional seperti Patriot.
Serangan ke misi diplomatik Amerika dinilai sebagai sinyal bahwa eskalasi dapat meluas, bukan hanya menyasar instalasi militer tetapi juga simbol diplomasi.
Trump bersikeras bahwa langkah militer Amerika bersifat pencegahan, dengan alasan Iran akan menyerang lebih dulu jika tidak dihentikan. Namun, analis menilai klaim itu belum pernah terbukti secara historis.
Sejak Revolusi 1979, Iran tercatat tidak pernah memulai agresi militer langsung terhadap negara lain. Dukungan Teheran terhadap kelompok seperti Hamas di Gaza atau Hizbullah di Lebanon diposisikan Iran sebagai bagian dari perlawanan terhadap Israel, bukan agresi terbuka antarnegara.
Di sisi lain, kawasan juga diramaikan isu operasi intelijen dan dugaan sabotase. Beberapa laporan menyebut adanya penangkapan agen yang dicurigai hendak memanfaatkan situasi untuk memperkeruh keadaan, meski klaim ini masih simpang siur.
Analis menilai tujuan utama Washington dan Tel Aviv bukan sekadar meredam ancaman jangka pendek, melainkan memperlemah kapabilitas militer Iran—terutama pengembangan rudal balistik—serta memutus dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok anti-Israel di kawasan.
Upaya menggoyang stabilitas politik dalam negeri Iran juga disebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Namun tekanan domestik di Amerika dan Israel justru meningkat. Di AS, sebagian anggota Kongres mempertanyakan legalitas perang tanpa persetujuan legislatif. Sementara di Israel, gelombang demonstrasi atas perang berkepanjangan di Gaza terus terjadi.
Iran diketahui memiliki hubungan pertahanan erat dengan Rusia dan China. Namun hingga kini belum ada tanda keterlibatan langsung kedua negara tersebut. Tahun lalu, Moskow menegaskan Iran tidak meminta bantuan militer langsung. Sejumlah kerja sama pertahanan, termasuk penggunaan drone Shahed oleh Rusia dalam konflik Ukraina, menunjukkan hubungan militer yang sudah berjalan, tetapi belum berarti intervensi terbuka.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan, terutama jalur distribusi energi global yang sangat bergantung pada keamanan Teluk. Jika eskalasi terus meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan Timur Tengah, tetapi juga pasar energi dan ekonomi dunia.
Di tengah panasnya konflik dan perang narasi yang saling menyalahkan, publik internasional kini menanti apakah jalur diplomasi masih memiliki ruang—atau justru kawasan akan memasuki babak konfrontasi yang lebih besar.
(Red).
