Lumajang || kolocokronews
— Minggu, 23 November 2025
Banjir lahar hujan yang kembali menerjang aliran Sungai Leprak di bawah Jembatan Besuk atau Geladak Perak, Minggu sore, bukan hanya memicu kekhawatiran, tetapi juga menghadirkan pemandangan memprihatinkan. Meski aliran lahar membawa material berbahaya, fenomena ini justru dijadikan tontonan oleh warga sekitar.
Begitu terdengar suara gemuruh dari arah hulu, puluhan warga segera memadati area jembatan. Mirisnya, aliran lahar yang berpotensi mengancam keselamatan justru disambut antusias. Warga terlihat berswafoto, merekam video, hingga melakukan siaran langsung seolah sedang menikmati atraksi alam, bukan bencana.
Sebagian warga mendekat terlalu jauh ke tepi jembatan demi mendapatkan sudut pengambilan gambar terbaik, tanpa memikirkan risiko luapan mendadak atau runtuhan material.
Melihat kerumunan yang semakin tak terkendali, aparat kepolisian bersama relawan segera bergerak cepat. Mereka melakukan pengusiran terhadap warga yang berada di area rawan, termasuk yang masih berupaya mengambil foto dan video di sekitar jembatan.
Petugas menutup akses menuju jembatan dan memberikan peringatan tegas agar warga menjauh.
“Kami minta masyarakat untuk tidak berada di sekitar aliran lahar. Kondisi bisa berubah dalam hitungan detik,” ujar seorang petugas yang sedang mengevakuasi warga dari lokasi.
Getaran Lahar Meningkat, Amplitudo Capai 40 mm
Pos Pengamatan Gunung Api Semeru mencatat amplitudo getaran banjir lahar mencapai 40 mm, menandakan aktivitas lahar berada pada fase kuat. Kondisi ini membuat jalur Lumajang–Malang diberlakukan sistem buka tutup untuk mengantisipasi lonjakan material yang melintas.
Petugas mengarahkan pengguna jalan untuk mengambil rute aman sambil terus memantau pergerakan lahar.
Imbauan Serius: Hentikan Kebiasaan Berburu Konten di Tengah Bencana
Pihak berwenang menegaskan bahwa banjir lahar bukan tontonan dan bukan pula tempat membuat konten media sosial. Aliran lahar dapat menyeret batu besar, kayu, dan material erupsi dalam jumlah besar, sehingga sangat berbahaya bagi siapa pun yang berada di dekatnya.
Dengan aktivitas Semeru yang masih fluktuatif, warga diminta lebih bijak dan memprioritaskan keselamatan diri serta keluarga, bukan sensasi atau konten semata.
(Red).
