KKI Malang Raya Bawa Semangat Pelestarian Budaya pada Hari Kebaya Nasional ke-3 di Yogyakarta

5/5 - (1 vote)

YOGYAKARTA || Kolocokronews
Komunitas Kebaya Indonesia (KKI) Kabupaten Malang turut ambil bagian dalam peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 yang berlangsung di Plaza Museum Monumen Serangan Umum 1 Maret, Kota Yogyakarta, Jumat (24/7/2026). Kehadiran delegasi Malang Raya menjadi wujud komitmen dalam menjaga kelestarian kebaya sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Mengangkat tema “Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia”, peringatan Hari Kebaya Nasional tahun ini dihadiri Ketua KKI Indonesia Dr. Erna Bayu Setyaningrum, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, GKBRAA Paku Alam, anggota KKI dari berbagai provinsi, pegiat budaya, seniman, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum.

Suasana acara semakin semarak dengan berbagai pertunjukan budaya, di antaranya parade kebaya, peragaan busana, penampilan 600 perempuan berkebaya memainkan angklung, flashmob, serta nyanyi bersama. Seluruh rangkaian kegiatan menjadi simbol ajakan untuk terus melestarikan kebaya yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Ketua KKI Kabupaten Malang, Dra. Endah Purwatiningsih, mengatakan bahwa keikutsertaan KKI Malang Raya bukan sekadar menghadiri peringatan nasional, melainkan membawa identitas budaya daerah agar semakin dikenal masyarakat.

“Kami hadir membawa ciri khas Malang Raya, yaitu Topeng Malangan. Kebaya yang kami kenakan dipadukan dengan unsur budaya lokal sebagai bentuk promosi bahwa setiap daerah memiliki kekayaan budaya yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Menurut Endah, Topeng Malangan dipilih karena telah lama menjadi ikon budaya Kabupaten Malang. Selain dikenal melalui seni pertunjukan, motif topeng juga banyak diaplikasikan pada karya batik para perajin lokal sehingga memiliki nilai seni dan filosofi yang kuat.

Ia menjelaskan, rombongan KKI Kabupaten Malang telah berada di Yogyakarta sejak Kamis (23/7/2026). Selama di Kota Gudeg, mereka mengunjungi sejumlah destinasi budaya seperti Keraton Yogyakarta, kawasan Istana Kepresidenan, Candi Prambanan, hingga Situs Ratu Boko. Kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan kebaya Indonesia kepada wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara yang berkunjung.

Sementara itu, dalam sambutannya, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenakan dan melestarikan kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia. Menurutnya, pengakuan UNESCO menjadi dorongan agar kebaya semakin dicintai, digunakan dalam berbagai kesempatan, dan dikenal di tingkat internasional.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menilai regenerasi menjadi kunci keberlanjutan kebaya. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda untuk mencintai kebaya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai budayanya.

Bagi KKI Kabupaten Malang, momentum Hari Kebaya Nasional menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi antardaerah dalam menjaga warisan budaya Nusantara. Melalui perpaduan kebaya dan Topeng Malangan, mereka berharap budaya lokal semakin dikenal luas sekaligus menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di mata dunia.

“Kami berharap kebaya tidak hanya menjadi busana tradisional, tetapi juga menjadi simbol persatuan, kebanggaan, dan identitas bangsa yang mampu mengangkat kearifan lokal Indonesia hingga ke panggung internasional,” tutup Endah.
(Red).

error: Content is protected !!