Sumatra || kolocokronews
— Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali berduka setelah rentetan bencana hidrometeorologi melanda selama beberapa hari terakhir. Hujan deras nonstop memicu banjir bandang, longsor, angin kencang, hingga puting beliung yang merusak berbagai fasilitas umum dan permukiman warga. Data sementara mencatat 48 korban meninggal dunia dan 88 orang masih hilang.
Di Sumatera Utara, intensitas bencana meningkat tajam dengan 86 kejadian dalam tiga hari terakhir. Catatan BPBD meliputi 59 peristiwa longsor, 21 banjir, serta 4 pohon tumbang dan 4 puting beliung yang menghantam 11 kabupaten/kota. Tumpukan material longsor menutup sejumlah ruas jalan sehingga menghambat distribusi bantuan ke wilayah terdampak, terutama pada Kamis (27/11/2025).
Situasi serupa terjadi di Sumatera Barat, yang dihantam kombinasi banjir, longsor, dan angin kencang di 13 kabupaten/kota. Pemerintah provinsi resmi menetapkan status tanggap darurat hingga 8 Desember 2025, menyusul meluasnya dampak dan potensi bencana susulan.
Sementara itu, di Aceh, sebanyak 9 kabupaten/kota telah menetapkan status darurat bencana. Total 46.893 warga terdampak, dengan hampir 1.500 orang mengungsi ke lokasi-lokasi aman. Aceh Timur menjadi daerah paling parah, di mana banjir merendam 11 kecamatan dan memaksa ribuan warga mengamankan diri.
Kerusakan infrastruktur juga cukup signifikan. Empat jembatan terputus dan sedikitnya 20 titik jalan tertimbun longsor di tiga provinsi tersebut. Kondisi ini memperlambat proses evakuasi maupun pengiriman logistik bagi warga yang terisolasi.
Hingga laporan ini diterbitkan, hujan masih mengguyur sejumlah daerah dan petugas gabungan terus bekerja keras mengevakuasi warga serta membuka akses yang tertutup. Pemerintah daerah dan pusat mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.
(Red).
