JAKARTA || kolocokronews
— Pemerintah memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap aman meskipun harga minyak dunia mengalami lonjakan akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada sejumlah awak media kamis (5/3/2026) menegaskan bahwa pemerintah telah menghitung berbagai skenario kenaikan harga minyak, sehingga anggaran negara masih mampu menanggung kebutuhan impor maupun subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi semakin memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia, yang kemudian memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan harga minyak hingga mencapai 92 dolar AS per barel. Menurutnya, dalam skenario tersebut anggaran negara masih bisa dikelola tanpa menimbulkan gangguan besar pada stabilitas fiskal.
“Harga minyak memang sudah mendekati 80 dolar per barel. Kami sudah menghitung bahkan jika mencapai 92 dolar per barel pun anggaran masih bisa dikendalikan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan kebijakan anggaran apabila harga minyak terus bergerak naik. Menurutnya, selama pasokan minyak dunia masih tersedia, meskipun dengan harga lebih tinggi, kondisi ekonomi nasional masih dapat dijaga.
“Kalau tidak ada pasokan sama sekali hingga sekitar 20 hari, baru situasinya bisa menjadi masalah. Tapi biasanya tidak seperti itu. Pasokan tetap ada, hanya saja harganya lebih mahal,” jelasnya.
Sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah global terus mengalami kenaikan. Penutupan Selat Hormuz turut memperkuat tekanan terhadap pasar energi internasional.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah Brent terus merangkak naik. Pada penutupan perdagangan 2 Maret, harga Brent tercatat mencapai 77,74 dolar AS per barel. Kenaikan berlanjut hingga melampaui 80 dolar dan sempat berada di level sekitar 82,49 dolar per barel.
Tren serupa juga terjadi pada minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI). Pada akhir perdagangan pekan sebelumnya, harga WTI berada di kisaran 67,21 dolar per barel. Namun dalam beberapa hari berikutnya, harga terus meningkat hingga menyentuh sekitar 75,98 dolar per barel.
Meski demikian, pemerintah optimistis kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil. Dengan berbagai perhitungan yang telah disiapkan, pemerintah yakin defisit anggaran tetap dapat dijaga dan pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan terganggu secara signifikan.
(Red).
