Suryo Widodo Dorong Kebangkitan Budaya Nusantara, JTP wacanakan Museum Budaya

5/5 - (1 vote)

MALANG || Kolocokronews
— Upaya menggali kembali jejak peradaban dan menghidupkan identitas budaya Nusantara mendapat perhatian serius dalam Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 yang digelar di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Sabtu (8/8/2026)

Hadir Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si., turut hadir bersama Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum., Pelaksana Pelindungan Keraton Solo KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, serta tokoh budaya, penghayat kepercayaan, budayawan dan tamu undangan lainnya.

Salah satu tokoh yang turut hadir dan memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian budaya tersebut adalah Suryo Widodo dari Jatim Park (JTP). Kehadirannya dalam forum bertema “Sarasehan Kebudayaan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka Menggali Jejak-Jejak Peradaban Kebudayaan Nusantara” menjadi bagian dari semangat untuk mendorong budaya Nusantara agar tidak sekadar menjadi catatan sejarah.

Dalam wawancaranya Suryo menilai, membangkitkan kembali budaya Nusantara bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan proses panjang, keterlibatan masyarakat, serta dorongan dari pemerintah agar kekayaan budaya di berbagai daerah dapat kembali terlihat dan memiliki ruang yang kuat di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, identitas budaya di Indonesia sangat beragam. Namun, kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup dan pengaruh budaya modern membuat sebagian tradisi mulai menghadapi tantangan untuk tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya.

“Budaya itu bukan sesuatu yang bisa langsung dibangkitkan begitu saja. Butuh proses, butuh waktu, dan tentunya dorongan dari pemerintah. Kita ingin identitas budaya di seluruh Indonesia ini kembali tampak,” ujar Suryo.

Ia mencontohkan pakaian adat sebagai salah satu bentuk identitas budaya yang kini menghadapi tantangan dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Pakaian adat tradisional yang benar-benar mengikuti bentuk dan pakem asli, menurutnya, semakin sulit diterapkan secara penuh karena masyarakat juga mengalami perubahan akibat perkembangan zaman.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti budaya harus ditinggalkan. Sebaliknya, diperlukan cara baru agar nilai dan identitas budaya tetap dapat dikenalkan kepada generasi muda tanpa kehilangan akar tradisinya.

Suryo menyebut, upaya tersebut juga tengah didorong melalui lingkungan Jatim Park. Salah satunya melalui rencana agenda museum budaya yang diproyeksikan menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat.

“Di Jatim Park kebetulan ada agenda untuk museum budaya. Rencananya sekitar Agustus atau September nanti,” ungkapnya.

Menurut Suryo, museum budaya nantinya diharapkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, museum harus mampu menjadi ruang edukasi yang membuat masyarakat, khususnya generasi muda, memahami asal-usul, tradisi, kesenian, pakaian adat, hingga nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Nusantara.

Gagasan tersebut sejalan dengan semangat Kongres Kebudayaan Nusantara yang berupaya menggali kembali jejak peradaban sekaligus memperkuat pelestarian kebudayaan, nilai luhur dan keberagaman sebagai bagian penting dari identitas bangsa.

Budaya harus tetap hidup. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mendengar cerita tentang budaya dari buku, tetapi tidak pernah mengenal dan melihatnya secara langsung,” pungkasnya.
(Red).

error: Content is protected !!