Rencana Invasi AS ke Iran Picu Kekhawatiran, Analis Sebut Berisiko Besar

Rate this post

International || kolocokronews
Jumat, (6/3/2026) ~ Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul sinyal dari Washington mengenai kemungkinan operasi militer darat ke wilayah Iran. Wacana tersebut memicu berbagai reaksi dan analisis dari pengamat internasional yang menilai langkah itu berpotensi memicu konflik besar di Timur Tengah.

Dalam sebuah diskusi geopolitik, analis Timur Tengah sekaligus pendiri Halaqah Geopolitik, Faisal Assegaf, menilai rencana invasi darat ke Iran bukanlah keputusan sederhana. Menurutnya, langkah tersebut bahkan bisa menjadi risiko geopolitik yang sangat besar bagi Amerika Serikat.

Ia mengungkapkan bahwa laporan dari media politik Amerika menyebut Pentagon tengah menyiapkan skenario perang yang diperkirakan dapat berlangsung hingga sekitar 100 hari. Jika benar terjadi, operasi tersebut bisa berlangsung selama beberapa bulan dan bahkan berdekatan dengan agenda politik domestik Amerika Serikat, termasuk menjelang pemilihan presiden.

Faisal mengingatkan bahwa pengalaman militer Amerika di Afghanistan dan Irak menjadi pelajaran penting. Meski berhasil menggulingkan rezim Saddam Hussein di Irak, Amerika akhirnya harus menarik pasukannya setelah menghadapi perlawanan panjang dan biaya perang yang sangat besar.

Menurutnya, kondisi Iran sangat berbeda dibandingkan dengan negara-negara yang pernah diinvasi sebelumnya. Iran memiliki identitas nasional yang kuat dengan sejarah panjang sebagai bangsa Persia yang pernah menjadi kekuatan besar dunia.

“Serangan militer tidak selalu menghasilkan perubahan rezim dengan cepat. Bahkan jika pemimpin utama mereka diserang, belum tentu rakyatnya akan terpecah. Dalam banyak kasus justru memicu solidaritas nasional yang lebih kuat,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa secara teoritis hanya ada dua cara utama untuk menjatuhkan sebuah pemerintahan dari luar. Pertama adalah mendorong pergolakan internal atau people power di dalam negeri, dan kedua melalui invasi militer langsung.

Namun menurutnya, kedua skenario tersebut tidak mudah diterapkan di Iran. Upaya memicu pergolakan internal dinilai sulit karena struktur politik dan sosial Iran relatif solid, sementara invasi darat memerlukan sumber daya militer dan logistik yang sangat besar.

Secara geografis, Iran juga dianggap memiliki keuntungan strategis. Wilayahnya luas dengan kondisi medan yang kompleks, mulai dari pegunungan hingga gurun yang sulit dilalui pasukan militer besar.

Selain itu, jarak logistik menuju Iran juga menjadi tantangan tersendiri bagi militer Amerika. Jalur suplai dari wilayah sekitar seperti Turki atau kawasan Kaukasus membutuhkan waktu panjang serta koordinasi militer yang sangat kompleks.

Dalam skenario lain, muncul pula spekulasi bahwa Amerika Serikat dapat mencoba memanfaatkan kelompok separatis Kurdi di kawasan untuk menekan Iran dari dalam. Namun Faisal menilai kekuatan kelompok Kurdi di Iran masih belum cukup besar untuk memicu pemberontakan skala nasional.

Ia juga menyoroti aspek biaya perang yang sangat tinggi. Amerika Serikat telah mengeluarkan miliaran dolar untuk mendukung konflik di Timur Tengah, termasuk bantuan militer kepada Israel dalam konflik dengan Hamas di Gaza.

Menurutnya, perang langsung melawan Iran akan jauh lebih mahal karena Iran bukan kelompok milisi seperti Hamas atau Hizbullah, melainkan negara dengan angkatan bersenjata yang terorganisasi.

Selain kekuatan militer formal, Iran juga memiliki jaringan relawan dan milisi yang besar. Jika digabungkan, jumlah personel pertahanan Iran diperkirakan mencapai sekitar satu juta orang, sementara pasukan Amerika Serikat memiliki jumlah lebih besar namun menghadapi tantangan medan tempur yang berbeda.

Faktor lain yang dianggap penting adalah semangat nasionalisme masyarakat Iran. Dalam kondisi ancaman dari luar, rakyat sering kali bersatu mempertahankan negara mereka, yang dapat memperpanjang konflik jika terjadi invasi.

Faisal bahkan membandingkan situasi tersebut dengan invasi Irak pada tahun 2003. Saat itu, perpecahan internal di Irak membuat perubahan rezim lebih mudah terjadi. Sementara di Iran, struktur sosial dan politik dinilai jauh lebih solid.

Ia juga menilai potensi invasi tersebut dapat menimbulkan perdebatan besar dalam hukum internasional, terutama jika operasi militer dilakukan tanpa dukungan global yang luas.

“Jika invasi terjadi, dampaknya tidak hanya pada Iran, tetapi bisa mengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada keputusan resmi terkait rencana invasi darat tersebut. Namun berbagai analis sepakat bahwa setiap langkah militer terhadap Iran berpotensi membawa konsekuensi besar bagi keamanan global dan stabilitas geopolitik dunia.
(Red).

error: Content is protected !!