Headline

Sekolah Jurnalisme dan UKW Jadi Vitamin Pasca Raker SMSI Malang Raya

Kota Batu || kolocokronews
Selasa(16/12/2025) — Jika kritik adalah cambuk, maka Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Malang Raya memilih berlari lebih kencang. Rapat Kerja (Raker) yang digelar dua hari, Jumat–Sabtu (12–13 Desember 2025) di Taman Dolan, Giripurno, Bumiaji, Kota Batu, bukan hanya forum evaluasi akhir tahun, melainkan juga ruang perenungan tentang marwah profesi jurnalis.

Di tengah dinamika pembahasan program kerja, satu suara dari anggota SMSI Malang Raya mencuat dan mengendap kuat di ruang sidang. Ia menegaskan, kejayaan media tidak cukup bertumpu pada modal brand yang mentereng. Kualitas jurnalisme, katanya, lahir dari kejujuran dalam menulis serta keberanian menjunjung transparansi, etika, dan adab.

“Belajar dari pengalaman, kurangnya transparansi sering memicu kesalahpahaman. Wartawan harus berani tampil beda, membawa nama baik profesi. Tidak bisa semberono,” ujarnya. Pernyataan itu didengar saksama oleh Ketua SMSI Malang Raya dan seluruh peserta raker, hingga akhirnya disepakati bersama bahwa transparansi adalah tonggak utama organisasi berdiri.

Nada reflektif tersebut sejalan dengan arah besar yang kemudian ditegaskan SMSI Malang Raya: pendidikan jurnalisme dan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dijadikan menu utama program kerja 2026. Bahkan, wacana pendirian Sekolah Jurnalisme disebut sebagai “vitamin” pasca raker—asupan penting untuk memperkuat daya tahan organisasi.

Ketua SMSI Malang Raya, Doi Nuri, menegaskan langkah ini bukan sekadar gaya-gayaan. “SMSI adalah konstituen resmi Dewan Pers. Kalau pengelola medianya sah, maka kualitas wartawannya juga harus sahih,” ujarnya, setengah tersenyum namun bernada serius.

Ia menyebut dukungan DPW SMSI Jawa Timur sebagai energi tambahan. DPW, kata Doi, siap mengawal pendirian Sekolah Jurnalisme dan pelaksanaan UKW. “Ini penting, apalagi setelah berbagai pengalaman yang kami lalui,” katanya.

Pengalaman yang dimaksud bukan tanpa cerita. Beberapa waktu lalu, SMSI Malang Raya sempat “disentil” secara terbuka oleh salah satu unsur Forkopimda Kota Batu yang meragukan kredibilitas organisasi. Bahkan, sebuah penghargaan dari SMSI pernah ditolak secara terbuka di ruang publik.

“Di depan saya langsung ditolak, dengan asumsi negatif pula,” kisah Doi, tanpa menyebut nama. Namun, alih-alih larut dalam ketersinggungan, SMSI memilih menjadikannya bahan bakar pembenahan. “Kami tidak menganggapnya kebencian. Bukti memang tidak dipaparkan, tapi itu justru tantangan bagi kami untuk berbenah,” ujarnya.

Selain Sekolah Jurnalisme dan UKW, Raker juga melahirkan gagasan pembentukan Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Bidang ini dirancang menjadi dapur riset yang akan berkolaborasi dengan Bidang Ekonomi Kreatif (E-Kraf), menghasilkan kreativitas berbasis data yang relevan dengan era digital sekaligus menopang keberlangsungan organisasi.

“Zaman sudah digital. Masa iya organisasi media tidak memanfaatkan riset dan kreativitas untuk bertahan hidup?” tegas Doi.

Bidang Humas pun tak mau ketinggalan. Agenda Fun Run dan Pesta Budaya disiapkan untuk Februari 2026, sebagai upaya mendekatkan SMSI dengan masyarakat—lebih santai, namun tetap bermakna.

Menutup Raker, Doi Nuri melontarkan pernyataan yang terdengar sederhana namun sarat makna. “Tahun 2026, kami tidak sibuk membuktikan apa pun agar dipandang positif. Kami cukup sibuk menjadi manfaat. Soal penilaian, biarlah publik yang menilai.”
Sebuah sikap yang, barangkali, lebih lantang daripada seribu klarifikasi.
(Red).

error: Content is protected !!