Jakarta || kolocokronews
Minggu (01/3/2026) ~ Situasi geopolitik Timur Tengah kian memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, , dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat. Teheran pun merespons dengan ancaman pembalasan yang disebut akan jauh lebih besar. Pertanyaannya, apakah konflik ini akan berkepanjangan dan benarkah akar persoalannya semata soal nuklir?
Dalam perbincangan di program Kompas Petang, praktisi dan pengajar hubungan internasional Dina Prapto Raharja menilai eskalasi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Menurutnya, pernyataan-pernyataan dari Washington dan Tel Aviv justru memperlihatkan kecenderungan provokatif dan inkonsisten.
Ia menyoroti bahwa alasan serangan yang disampaikan Amerika Serikat tidak lagi semata terkait program nuklir Iran, melainkan juga narasi perlindungan terhadap kepentingan nasional dari rezim yang dinilai otoriter. Bagi Dina, pergeseran alasan ini menandakan adanya persoalan yang lebih dalam, yakni pertarungan eksistensial dan geopolitik global.
“Ini bukan sekadar isu nuklir. Ada dimensi kekuatan besar yang saling berhadapan,” ujarnya.
Selat Hormus dan Ancaman Krisis Energi Dunia
Sorotan utama kini mengarah ke , jalur vital distribusi energi dunia. Jika jalur ini benar-benar ditutup, dampaknya tak lagi bersifat regional, melainkan global.
Sekitar 84 persen minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang melintasi Selat Hormus mengalir ke pasar Asia, dengan konsumen utama seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Penutupan jalur tersebut berpotensi mengguncang rantai pasok energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak.
Menurut Dina, jika distribusi terganggu dan negara-negara pengimpor bergantung pada pasokan alternatif, maka kendali harga energi global bisa berpindah tangan. Situasi ini dinilai berbahaya karena menempatkan energi sebagai alat tekanan geopolitik.
Ia juga mengingatkan bahwa jalur alternatif belum sepenuhnya siap menggantikan peran Selat Hormus. Masa transisi yang terjadi bisa sangat menyakitkan bagi ekonomi global.
Bukan Lagi Konflik Tiga Negara
Konflik ini dinilai tak lagi terbatas pada Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Keterlibatan aktor besar seperti Rusia dan China disebut hampir tak terhindarkan, terutama jika kepentingan energi dan jalur logistik mereka terganggu.
Di forum Dewan Keamanan PBB, sejumlah negara besar telah menyuarakan keprihatinan dan mendesak pertemuan darurat. Namun, terdapat keterbatasan hukum internasional dalam mengatur Selat Hormus karena wilayah tersebut berada dalam laut teritorial Iran dan Oman, bukan perairan internasional sepenuhnya.
Upaya mediasi sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah negara kawasan seperti Oman, Turki, Qatar, hingga Arab Saudi. Bahkan disebutkan bahwa Iran sebelumnya telah menunjukkan kesediaan untuk bekerja sama dalam isu nuklir. Namun, ruang negosiasi dinilai semakin menyempit di tengah operasi militer besar yang dilancarkan Israel.
Dina juga menilai dinamika ini berkaitan erat dengan konflik Israel–Palestina. Iran kerap dituding sebagai pendukung Hamas, sehingga ketegangan di satu titik bisa berdampak pada peta konflik yang lebih luas.
Peran Indonesia Dipertanyakan
Terkait posisi Indonesia, Dina menilai langkah menjadi mediator tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan kesiapan sumber daya, strategi diplomasi, serta sikap netral yang konsisten.
Ia juga menyoroti pernyataan resmi yang dinilai belum menunjukkan empati atau keprihatinan atas serangan terhadap Iran. Dalam konteks diplomasi, sikap tersebut dapat memengaruhi persepsi netralitas Indonesia di mata dunia.
Menurutnya, jika Indonesia ingin berperan dalam upaya perdamaian, pendekatan yang seimbang dan independen menjadi kunci.
Di tengah ketidakpastian ini, satu hal yang jelas: ketegangan di Selat Hormus bukan hanya tentang Iran atau satu tokoh semata. Ini adalah pertarungan geopolitik besar yang berpotensi mengguncang stabilitas energi, ekonomi, dan keamanan global. Jika jalur diplomasi tak segera diperkuat, dunia bisa menghadapi babak krisis yang lebih panjang.
(Red).
