Banyuwangi || kolocokronews
Sabtu (20/6/2026) – Semangat melestarikan budaya leluhur kembali terasa kental dalam peringatan Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 yang digelar oleh PAMU (Pirukunan Ayu Mardi Utomo) di Dusun Tojo Kidul, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (18/6/2026).
Mengusung tema “Mahargya Tumapaking Warsa Enggal 1 Suro 1960 (1448 H–2026)”, kegiatan ini menjadi simbol penghormatan dan penyambutan datangnya Tahun Baru Jawa dengan penuh rasa syukur serta penghargaan terhadap nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut menjadi bukti bahwa budaya Jawa yang sarat makna spiritual masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Berbagai rangkaian acara digelar sejak pagi hingga malam hari, mulai dari jamasan pusaka, nembang Mocopat Suluk Limo, wilujengan nggarap berkah, hingga pagelaran wayang kulit yang menjadi puncak acara.
Nuansa religius dan budaya tampak berpadu harmonis sepanjang kegiatan. Doa-doa dan pujian kepada leluhur serta kepada Tuhan Yang Maha Esa dilantunkan menggunakan bahasa Jawa yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam, menciptakan suasana sakral yang sarat makna.
Menurut warga setempat, perayaan 1 Suro yang digelar PAMU selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Setiap tahun, kegiatan tersebut tidak hanya dihadiri warga Banyuwangi, tetapi juga budayawan, tokoh spiritual, pegiat budaya, hingga masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
“Acara ini selalu dinanti masyarakat. Banyak tamu datang dari luar daerah sehingga desa menjadi ramai. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga berdampak positif bagi perekonomian warga, terutama pelaku UMKM,” ujar salah seorang warga.
Kehadiran ribuan pengunjung membuat berbagai lapak makanan, minuman, hingga produk kerajinan lokal ramai diserbu pembeli sejak beberapa hari sebelum acara berlangsung hingga selesai.
Untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib, pengamanan dilakukan oleh jajaran kepolisian bersama unsur Forkopimcam. Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Banyuwangi beserta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh budaya.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Banyuwangi ,Ir. H. Mujiono menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat dalam menjaga dan merawat tradisi budaya yang diwariskan para leluhur.
“Ini adalah kegiatan yang luar biasa. Tradisi dan budaya masih terus dirayakan setiap tahun. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi pengingat akan jati diri bangsa yang tetap berpegang teguh pada ajaran luhur, menghormati asal-usul kehidupan, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tempat manusia berasal dan pada akhirnya akan kembali,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga menyampaikan ucapan selamat memperingati Tahun Baru Jawa 1 Suro kepada seluruh masyarakat yang hadir.
Sementara itu, Ketua Umum PAMU, Cokro Wibowo, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tahunan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah daerah, aparat keamanan, para tokoh budaya, relawan, dan seluruh masyarakat yang telah nyengkuyung kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar,” katanya.
Salah satu momen yang paling ditunggu masyarakat adalah Grebeg Tumpeng Agung. Dalam prosesi tersebut, warga berbondong-bondong memperebutkan gunungan tumpeng yang telah didoakan sebelumnya. Antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga seluruh isi tumpeng habis dalam hitungan menit.
Bahkan, serpihan bambu encek yang digunakan sebagai penyangga tumpeng pun ikut dibawa pulang warga. Mereka meyakini bagian-bagian dari Tumpeng Agung tersebut mengandung doa dan simbol keberkahan.
Tradisi ini menjadi gambaran kuat bagaimana masyarakat Banyuwangi masih memegang teguh nilai gotong royong, spiritualitas, dan penghormatan terhadap budaya leluhur. Di tengah arus modernisasi, perayaan 1 Suro yang digelar PAMU terus menjadi ruang pemersatu berbagai kalangan sekaligus pengingat pentingnya menjaga warisan budaya sebagai identitas bangsa.
(Red).
