Batu, Malang || kolocokronews
Rabu (2/4/2026) – Banjir luapan yang kembali terjadi di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, memunculkan kembali sorotan terhadap persoalan tata ruang di kawasan tersebut. Organisasi lingkungan menilai bencana yang terjadi tidak semata-mata disebabkan faktor alam, melainkan juga dipicu kerusakan lingkungan di wilayah hulu.
Kritik itu disampaikan oleh (Walhi) Jawa Timur setelah banjir melanda sejumlah titik di Kota Batu pada 30 Maret lalu. Peristiwa tersebut berdampak di beberapa wilayah, terutama di kawasan Punten hingga Banyuning.
Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim Pradipta Indra Ariono , menilai kondisi banjir yang terjadi menunjukkan adanya anomali serius. Menurutnya, luapan air yang membawa sedimentasi tanah dalam jumlah besar menjadi tanda adanya kerusakan pada kawasan hulu atau daerah tangkapan air.
Ia menjelaskan, volume sedimen yang terbawa aliran air jauh melebihi kondisi normal di aliran Kali Paron. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perubahan signifikan pada tutupan lahan di wilayah hulu.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Walhi, aliran air yang membawa material tanah diduga berasal dari kawasan kaki hingga area wisata di Kota Batu. Perubahan fungsi lahan di jalur tersebut dinilai cukup besar dan berpotensi memperparah risiko banjir ketika hujan deras terjadi.
Walhi menilai persoalan tata ruang di wilayah Bumiaji perlu segera dievaluasi secara serius agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang. Selain itu, perlindungan kawasan hulu dan daerah resapan air juga dianggap penting untuk meminimalkan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Kota Batu.
(Red).
