Trump Buka Peta Target Baru Usai Serangan Venezuela, Greenland hingga Iran Masuk Daftar

Rate this post

WASHINGTON || kolocokronews
– Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengirimkan sinyal keras terkait kebijakan militernya di awal 2026. Usai serangan terhadap Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026, Trump mengisyaratkan bahwa langkah militer serupa bisa meluas ke sejumlah negara lain yang telah masuk dalam radar Washington.

Dalam wawancara singkat bersama awak media di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Minggu (4/1/2026), Trump menyebut sedikitnya ada lima negara yang menjadi perhatian serius Amerika Serikat. Meski tidak merinci secara detail, pernyataan itu langsung memicu spekulasi global.

Salah satu wilayah yang kembali disinggung secara terbuka adalah Greenland. Pada pernyataannya, Senin (5/1/2026), Trump menegaskan bahwa pulau besar di kawasan Arktik tersebut memiliki nilai strategis tinggi, baik dari sisi pertahanan militer maupun potensi sumber daya alam yang belum banyak dieksplorasi.

Menurut Trump, kepentingan keamanan nasional AS menjadi alasan utama mengapa Greenland dianggap krusial. Wilayah otonom yang berada di bawah Denmark itu juga diyakini menyimpan cadangan mineral bernilai tinggi, sehingga kerap masuk dalam perhitungan geopolitik Washington.

Tak hanya itu, Trump juga melontarkan ancaman terbuka terhadap Kolombia. Ia menuding Presiden Gustavo Petro terlibat atau setidaknya membiarkan kolaborasi dengan kartel narkoba. Kolombia bahkan disebut telah berubah menjadi pusat produksi dan distribusi utama kokain dunia yang menyasar pasar Amerika Serikat.

Tudingan tersebut dibantah keras oleh Presiden Petro. Menyikapi tekanan dari Washington, Petro menyatakan negaranya siap melakukan perlawanan bersenjata apabila AS benar-benar melakukan intervensi militer ke Kolombia.

Di kawasan Karibia, Trump turut menyinggung Kuba. Meski menilai aksi militer belum diperlukan dalam waktu dekat, ia meyakini posisi Kuba akan semakin terjepit secara ekonomi. Trump beranggapan bahwa Kuba sangat bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela, sehingga penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro diyakini akan mempercepat keruntuhan ekonomi Havana.

“Tanpa dukungan Venezuela, Kuba praktis kehilangan sumber pemasukan utama,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Tekanan serupa juga diarahkan ke Meksiko. Trump kembali mendorong militer AS untuk turun tangan memberantas kartel narkoba di kawasan tersebut. Ia memberi sinyal bahwa Washington akan bertindak jika Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dinilai tidak mengambil langkah tegas. Namun, pernyataan itu langsung ditolak oleh Sheinbaum yang menegaskan bahwa kedaulatan Meksiko tidak bisa diintervensi oleh negara mana pun.

Sementara itu, Iran turut masuk dalam daftar sorotan Trump. Negara penghasil minyak tersebut kini berada di bawah tekanan AS terkait gelombang protes sipil dan program nuklirnya. Trump memperingatkan Teheran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras apabila kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut.

Meski demikian, Iran menunjukkan sikap tidak gentar. Pemerintah Teheran menyatakan telah menyiapkan langkah balasan yang lebih kuat apabila AS benar-benar melancarkan aksi militer.

Pernyataan Trump ini menandai eskalasi baru dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sekaligus memicu kekhawatiran akan meluasnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia.
(Red).

error: Content is protected !!