Headline

Tiga Dusun di Lereng Semeru penuh dengan Material Vulkanik, Warga Mulai Kembali Cari Barang yang Tersisa

Lumajang || kolocokronews
_Sabtu, 22 November 2025-Letusan besar Gunung Semeru pada Rabu (19/11) kembali menyisakan duka mendalam bagi warga di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Guguran Awan Panas Guguran (APG) yang meluncur sejauh 8,5 kilometer—bahkan beberapa pemantauan mencatat hingga lebih dari 10 kilometer—menyapu tiga dusun di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Dusun Gumukmas, Sumbersari, dan Kamar A menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Pemandangan di Dusun Gumukmas kini tak lagi menyerupai permukiman. Tumpukan material vulkanik setinggi sekitar 80 sentimeter meratakan hamparan rumah, ladang, serta kebun warga. Puing-puing bangunan bercampur dengan pasir dan batu, menyisakan sisa-sisa kehidupan sehari-hari yang kini tak lagi utuh.

Dua sepeda motor ditemukan ringsek tertimbun material. Di sudut lain, bangkai kambing yang hangus sebagian menjadi saksi bagaimana panasnya awan panas menerjang kawasan tersebut.

Meski kondisi masih tak sepenuhnya aman, beberapa warga kembali ke lokasi untuk menyelamatkan barang-barang yang mungkin masih bisa digunakan, seperti televisi, koper, kompor, hingga tabung gas.

“Tidak banyak yang bisa diambil. Tapi apa pun yang tersisa kami bawa,” ujar salah satu warga

Berbeda dengan Gumukmas yang masih tampak aktivitas warga, Dusun Kamar A dan Sumbersari justru benar-benar hening pada Jumat (21/11). Hampir tak terlihat penghuni. Rumah-rumah terpendam di bawah pasir, abu, dan batu berukuran besar.

Bangunan SDN Supiturang 02 di Dusun Sumbersari benar-benar rata dengan tanah setelah diterjang APG. Laporan  juga menyebutkan bahwa di sekitar sekolah tersebut hanya tersisa beberapa pohon yang masih berdiri, itu pun sebagian sudah tertutup material vulkanik.

BPBD Jawa Timur sebelumnya juga mencatat bahwa lebih dari 200 rumah di sejumlah dusun di Supiturang mengalami kerusakan berat hingga rusak total akibat erupsi. Sejumlah fasilitas umum seperti musala, TPQ, serta akses pertanian warga ikut musnah.

Situasi dramatis juga tampak di kawasan Jembatan Gladak Perak, yang selama ini menjadi jalur penghubung utama antara Lumajang dan Malang. Sungai yang berada tepat di bawah jembatan terlihat masih mengeluarkan asap, indikasi bahwa material awan panas masih menyimpan suhu tinggi.

Debu vulkanik menutup badan jalan, pilar, dan area sekitar jembatan. Petugas pemadam kebakaran tampak bergantian menyemprotkan air untuk mengurangi ketebalan abu dan mengamankan area. Polisi ikut menutup akses karena warga sempat datang untuk mengambil gambar meski kondisi belum aman.

Pada pukul 16.00 WIB, Jumat (21/11), kepulan abu kembali membubung tinggi dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar jembatan. Asap berwarna kelabu menggulung ke udara, disertai semburan putih dari aliran sungai yang tertutup material panas.

PVMBG menaikkan status Semeru dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga). Meski guguran awan panas sudah berhenti sejak Jumat pagi, aktivitas erupsi tetap muncul berupa letusan kecil dan gempa vulkanik yang tercatat puluhan kali.

PVMBG mengingatkan warga untuk tidak beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah, serta mewaspadai area sektor tenggara–selatan hingga 20 kilometer dari puncak karena merupakan jalur luncuran APG.

Hingga Sabtu (22/11), tim gabungan BPBD, TNI, Polri, relawan dan pemadam kebakaran terus menyisir wilayah terdampak, baik untuk pencarian warga, evakuasi, maupun pembersihan akses.

Masker, makanan siap saji, dan kebutuhan dasar lainnya didistribusikan di posko pengungsian. Sementara itu, sebagian warga yang rumahnya hancur memilih tetap bertahan di pengungsian sambil menunggu kabar dari pemerintah terkait langkah lanjutan penanganan.
(Red).

error: Content is protected !!