Inti Bumi Ternyata Tak Sepadat Dugaan, Ilmuwan Temukan Struktur Berlapis Mirip Bawang

Rate this post

Sains || kolocokronews
Jumat(02/01/2026 – Selama ini, inti bumi kerap dibayangkan sebagai bola raksasa besi yang padat dan seragam. Namun pandangan tersebut kini mulai bergeser. Penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan: bagian terdalam planet ini ternyata memiliki struktur berlapis-lapis, tidak homogen seperti yang selama ini diyakini.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications dan didasarkan pada analisis mendalam gelombang seismik yang menembus hingga lebih dari 5.000 kilometer ke pusat bumi. Data tersebut kemudian diperkuat dengan eksperimen laboratorium yang mereplikasi tekanan dan suhu ekstrem di inti planet.

Petunjuk awal muncul dari perilaku gelombang gempa. Para ilmuwan sejak lama mencatat keanehan, yakni gelombang seismik bergerak lebih cepat ketika merambat sejajar dengan sumbu rotasi bumi dibandingkan jalur ekuator. Fenomena ini dikenal sebagai anisotropi seismik, yakni perbedaan kecepatan rambat gelombang berdasarkan arah perjalanannya.

Yang menarik, anisotropi ini tidak bersifat konsisten. Perubahannya bergantung pada kedalaman inti bumi. Untuk mengungkap penyebabnya, tim peneliti dari Universitas Münster, Jerman, menduga faktor utamanya bukan hanya tekanan dan suhu ekstrem, melainkan struktur mikroskopis material penyusun inti bumi.

Meski didominasi besi, inti dalam bumi ternyata juga mengandung unsur-unsur ringan seperti silikon dan karbon. Kombinasi unsur ini diyakini memengaruhi susunan kristal besi serta cara gelombang seismik melintasinya.

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, para ilmuwan menciptakan kondisi inti bumi di laboratorium menggunakan perangkat khusus bernama diamond anvil cell. Campuran besi, silikon, dan karbon ditekan di antara dua berlian hingga mencapai tekanan sekitar satu juta atmosfer, dengan suhu lebih dari 820 derajat Celsius.

Hasil eksperimen kemudian dianalisis menggunakan difraksi sinar-X untuk mengamati orientasi kristal yang terbentuk. Dari sinilah terungkap bahwa penambahan silikon dan karbon mengubah orientasi kristal besi, atau yang dikenal sebagai lattice preferred orientation (LPO). Perubahan orientasi ini menyebabkan gelombang seismik bergerak dengan kecepatan berbeda, tergantung arah dan kedalamannya.

Ketika temuan laboratorium tersebut diekstrapolasi ke skala planet, muncul gambaran baru tentang inti bumi. Bagian terdalam inti diduga memiliki kandungan unsur ringan yang lebih rendah sehingga anisotropinya lebih kuat. Sementara lapisan yang lebih luar mengandung silikon dan karbon lebih tinggi, membuat anisotropi seismiknya melemah.

Struktur berlapis ini menjadikan inti bumi menyerupai bawang—kompleks, bertingkat, dan terus berevolusi sejak miliaran tahun lalu. Temuan ini sekaligus menjawab anomali seismik yang selama puluhan tahun membingungkan para ahli geofisika.

Penelitian tersebut memperkuat kesimpulan bahwa inti dalam bumi tidaklah seragam. Perbedaan komposisi kimia sejak proses kristalisasi awal telah membentuk stratifikasi yang memengaruhi sifat fisik material inti. Dengan demikian, gelombang gempa yang tercatat di seluruh dunia menjadi kunci penting untuk memahami struktur dan evolusi bagian terdalam planet bumi secara lebih akurat.
(Red).

error: Content is protected !!