Jember || kolocokronews
— Kabupaten Jember kembali menjadi pusat perhatian nasional setelah ditetapkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai salah satu daerah strategis pelaksanaan program bongkar ratoon tebu nasional. Program besar yang digelontor dengan anggaran pusat mencapai Rp 1,6 triliun ini sejatinya dirancang untuk memperkuat revitalisasi tebu rakyat serta mempercepat tercapainya swasembada gula.
Namun sayangnya, manfaat program ini belum sepenuhnya menyentuh para petani. Minimnya sosialisasi di tingkat lapangan membuat banyak petani tebu rakyat di Jember justru tidak memahami mekanisme maupun cara mendapatkan bantuan tersebut.
Komitmen pemerintah pusat sebenarnya sudah ditegaskan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan kerja ke Jember baru-baru ini. Bahkan dalam kesempatan berbeda, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa Jember diberi peran penting sebagai “penyeimbang swasembada gula nasional” dengan target bongkar ratoon mencapai 2.500 hektare.
Petani Mengaku Tak Tahu Cara Mengakses Bantuan
Minimnya arus informasi dirasakan langsung oleh para petani. Nurudin, petani tebu dari Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, mengaku dirinya dan banyak petani lain belum mengetahui detail program tersebut.
“Saya saja yang pengurus asosiasi petani tebu tidak tahu bagaimana cara mendapatkan bantuan dana bongkar ratoon. Hanya pernah dengar dari PPL, tapi tidak ada penjelasan lengkap,” ujarnya.
Karena itu, Nurudin berencana mengajukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi B DPRD Jember untuk meminta klarifikasi langsung dari pihak terkait.
“Kami ingin difasilitasi DPRD agar bertemu pihak terkait. Kalau memang program ini benar ada dan bisa diakses, tentu sangat meringankan beban petani,” tambahnya.
Data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Jember menunjukkan bahwa target bongkar ratoon tahun 2025 mencapai 2.600 hektare, serta perluasan lahan baru lebih dari 36 hektare. Namun capaian di lapangan masih jauh dari harapan.
Hingga pertengahan Oktober 2025, realisasi bongkar ratoon di Jember baru mencapai 285,7 hektare, atau baru sekitar 10 persen dari total target. Realisasi perluasan lahan bahkan dinilai masih jauh tertinggal
Padahal, program bongkar ratoon ini mendapat dukungan anggaran APBN yang cukup besar. Ir. Hendratmojo Bagus Hudoro, M.Sc., Direktur Perlindungan Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian penting dari agenda hilirisasi dan industrialisasi tebu nasional sesuai arahan Presiden.
Dua jenis bantuan utama yang seharusnya bisa diterima petani meliputi:
Bibit Bermutu: 60.000 mata tunas benih tebu per hektare (senilai Rp 10 juta)
Bantuan Langsung Tunai (BLT): Untuk biaya tenaga kerja/HOK sebesar Rp 4 juta per hektare
Dengan skema tersebut, petani sebenarnya memperoleh dukungan nyata untuk memperbarui kebun tebu dan meningkatkan produktivitas. Namun selama informasi belum tersampaikan secara optimal, peluang besar ini terancam tidak termanfaatkan.
Minimnya sosialisasi di tingkat bawah kini menjadi sorotan. Para petani berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan pendampingan, sementara DPRD diminta memfasilitasi dialog agar petani dapat memperoleh kepastian terkait bantuan bongkar ratoon yang sangat mereka butuhkan.
(Hariyanto).
